Minggu, 01 April 2012

lapooran fisika


LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA DASAR






O l e h:

BQ RARA AYUARTI MUKMIN
NIM. 151 104 043






FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MATARAM
2010



HALAMAN PENGESAHAN


Laporan Praktikum Fisika Dasar ini disusun untuk memenuhi dan melengkapi tugas  pada acara Praktikum Fisik Dasar







Mataram:
                                                             

               
             Co.Ass                                                                                   Co.Ass


(Abdurrosyid )                                                             (Uswatun Hasanah)
NIM:                                                                           NIM:




                                                            Mengetahui:

 Kepala Lb. matematika                                                                                 Dosen pengampu




(Al-Kusairi M.Pd)                                                                                           (Bahtiar M.Pd)
NIP:                                                                                                                 NIP:







KATA PENGANTAR

           
            Puji syukur atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah beserta kesehatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan praktikum fisika dasar  ini tepat pada waktunya.
            Kesekian kalinya, tak lupa pula kita layang kan sholawat serta salam kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat- sahabat ,karena dengan perjuangan beliau lah kita dapat merasakan manisnya Islam sampai saat ini.
            Penulis sangat menyadari terdapat banyak kesalahan, kekurangan, serta jauh dari kesempurnaan dalam laporan ini, dan oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran, untuk mencapai kesempurnaan dari laporan ini.



                                                                                                Mataram, Oktober 2010
                                                                                                                                                                                                                        Penulis,



DAFTAR ISI

SAMPUL........................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ....... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ ...... iii
BAB I: PENDAHULUAN...................................................................................... ....... 1
A.    Latar belakang.................................................................................................. 1
B.     Rumusan masalah............................................................................................ 1
C.     Tujuan............................................................................................................. 1

BAB II: PEMBAHASAN.................................................................................................
A.    Pelaksanaan praktikum......................................................................................
1.      Hari/tanggal.................................................................................................
2.      Tempat.........................................................................................................
3.      Tujuan.........................................................................................................
B.     Landasan teori....................................................................................................
C.     Alat dan bahan ..................................................................................................
D.    Cara kerja .........................................................................................................
E.     Hasil pengamatan...............................................................................................
1.      Data (tabel)..................................................................................................
2.      Analisis data.................................................................................................
F.      Pembahasan.......................................................................................................
G.    Kesimpulan........................................................................................................

BAB III: PENUTUP..................................................................................................... 25
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 25
B.     Saran.............................................................................................................. 25
C.     Kritik.............................................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 26







BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           
            Salah satu ciri manusia sebagai makhluk berakal adalah rasa ingin tahu yang tak pernah habis dalam hidupnya, baik yang dapat ditangkap dengan panca indra maupun yang tidak, mereka menemukan banyak masalah yang harus dipecahkan karena di sekitarnya terjadi banyak kejadian yang alami atau akibat perbuatan manusia, disamping memberi keuntungan, kejadian itu sering memberikan kerugian dan bahkan malapetaka bagi mereka sendiri.
            Ilmu Fisika sebagai bagian dari IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), pembentuk utama fisika adalah bersama-sama fisis yang dipakai untuk menyatakan hukum-hukum fisik, misalnya panjang, waktu, gaya, kecepatan, temperatur intensitas cahaya dan banyak lagi yang lain. Beberapa diantara kata-kata itu merupakan bagian dari kosa kata kita sehari-hari, kita dapat mengatakan sesuatu misalnya : “ sepanjang umur hidup ku, baru kali ini ku lihat gaya mu seperti itu”. Dalam Fisika kata-kata demikian seperti panjang atau gaya diartikan dengan besaran-besaran  fisis  dan memerlukan definisi yang tepat dan jelas dan jangan di kacaukan dengan penggunaan dalam bahasa sehari-hari.                                                   



B. Rumusan Masalah

1.      Bagaimana cara mengukur sebuah benda dengan menggunakan alat ukur seperti jangka sorong, mikrometer sekrup, dan mister (penggaris) ?
2.      Bagaimana cara menentukan nilai dari percepatan gravitasi dengan menggunakan bandul matematis ?
3.   Bagaimana cara menentukan gaya sebuah benda berdasarkan hukum hooke

C. Tujuan

1.       Mengetahui cara menggunakan alat ukur, dan mengetahui fungsi dari masing-masing alat ukur tersebut.
2.      Mengetahui nilai percepatan gravitasi dengan bandul matematis.
3.      Mengetahui cara menentukan nilai dari gaya yang dikemukakan oleh Hooker.
4.      Memahami penggunaan azas Black untuk menghitung panas jenis zat padat.









ACARA 1

ALAT UKUR



A. Pelaksanaan

  1. Hari/tanggal          :Minggu,24 Oktober 2010
  2. Waktu                   :Jam 08.30-09.00
  3. Tempat                  :Ruang 14 


B. Landasan Teori
  1. jangka sorong

            Jangka sorong merupakan alat ukur yang mempunyai ketelitian yang cukup tinggi di bandingkan dengan mistar.jangka sorong memiliki ketelitian 0,1 mm atau 0,01 cm. Pada perkembangan selanjutnya, ada jangka sorong yang memiliki ketelitian sampai dengan 0,05 mm. Kegunaan jangka sorong adalah untuk mengukur benda dengan panjang maksimum 10 cm. Jangka sorong digunakan untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis, seperti mengukur diameter dalam ataupun luar gelas kimia. Jangka sorong terdiri dari beberapa bagian penting yaitu, rahang tetap, rahang geser, skala utama dan skala nonius.



v  Cara menggunakan jangka sorong
            Misalkan kita mengukur diameter luar sebuah gelas kimia, setelah gelas kimia kita jepit, maka kita kunci dengan memutar sekrup pengunci. Kemudian kita baca skala pada rahang tetap, yaitu garis skala di depan garis skala nonius yang tetap berimpit dengan garis skala rahang tetap.
v  Cara membaca skala pada jangka sorong
  1. Skala yang dibaca adalah skala tetap dan skala noniusnya.
  2. Hasil bacaannya sama dengan bacaan skala tetap + skala noniusnya
  3.  Skala rahang tetap yang dibaca adalah skala yang tetap berada pada garis paling depan dari skala nonius.
  4. Skala nonius yang dibaca adalah skala nonius yang berimpit dengan skala rahang tetap.

      2. Mikrometer sekrup

            Sama halnya dengan jangka sorong, mikrometer sekrup juga merupakan alat ukur dengan ketelitian cukup tinggi yaitu 0,01 mm. mikrometer  sekrup juga memiliki bagian-bagian yaitu : rahang tetap, rahang putar, pengunci, dan katrol pemutar.
Pada mirometer sekrup terdapat dua macam skala yaitu skala tetap dan skala putar.
1)      Skala tetap
Skala tetap terbagi satuan (mm), skala ini terdapat pada laras dan terbagi dua skala yaitu skala atas dan skala bawah.
2)      Skala putar
Skala ini terdapat pada besi penutup laras yang dapat berputar 360 derajat dapat bergeser ke depan atau ke belakang. Skala putar dibagi menjadi 50 skala atau bagian sama. Yaitu 1x putaran skala putar akan bergeser 0,5 mm ke depan atau ke belakang, maka setiap kita memutar skala  0,5/50 x 1 mm atau sama dengan 0,01 mm.


*      Cara menggunakan mikrometer sekrup

a.        Benda yang akan diukur ketebalannya diletakkan diantara landasan dan sumbu, kemudian gagang pemutar kita atur sehingga benda tersebut terjepit dengan kuat, baru kita tarik kunci ke arah kiri agar tidak terjadi pergeseran lagi (mengunci).
b.        Untuk menentukan besarnya pengukuran maka pembacaan skala kita lakukan dengan membaca skala tetap terlebih dahulu, dengan satuan milimeter, yaitu garis skala tetap yang tepat berada di depan gagang pemutar.

Pada pembacaan skala putar akan kita peroleh suatu angka tertentu kemudian kita kalikan dengan ketelitian nya yaitu 0,01mm. jumlah pembacaan skala dan skala putar inilah yang merupakan hasil pengukuran.



            3. stopwatch
           
            Stopwatch merupakan alat yang digunakan untuk mengukur waktu. Sering juga digunakan untuk mengukur kecepatan denyut nadi dan lain-lain. stopwatch ada dua macam yaitu :
a.       Stopwatch digital dengan ketelitian 0.001 s
b.      Stopwatch pegas dengan ketelitian 0,1 s
C. Alat dan Bahan

Alat:
1.      stopwatch
2.      jangka sorong
3.      mikrometer sekrup
4.      penggaris (mistar)
5.      gelas kimia 100 cm
6.      uang logam

      Bahan:
1.      air
2.      tripleks
3.      kertas

D. Langkah Kerja

Ø  jangka sorong
a.       menyiapkan alat dan bahan
b.      mengukur diameter dalam gelas kimia 100 cm dengan  jangka sorong
c.       mengukur diameter luar gelas kimia 100 cm dengan jangka sorong
d.      mengukur diameter luar gelas kimia 100 cm dengan mistar
e.       mengukur diameter dalam gelas kimia 100 cm dengan mistar
f.        mengukur kedalaman air pada gelas kimia 100 cm dengan menggunakan jangka sorong.
g.      .mengukur kedalaman air pada gelas kimia 100 cm dengan menggunakan jangka sorong.
h.      Mengulangi langkah b, c, dan f sebanyak 3 kali.
i.        Mencatat hasil pengamatan

Ø  Mikrometer sekrup

a.       Menyiapkan alat dan bahan
b.      Mengukur ketebalan mistar dengan mikrometer sekrup
c.       Mengukur ketebalan uang logam dengan mikrometer sekrup
d.      Mengukur ketebalan triplek dengan menggunakan mikrometer sekrup


v  Stopwatch

a.       Menyiapkan alat dan bahan
b.      Menghitung denyut nadi dalam keadaan diam dan setelah berlari dan mencatat waktunya.
c.       Melakukan percobaan b untuk jenis kelamin yang berbeda.
d.      Mencatat hasil pengamatan.




 E. Hasil pengamatan
  1. Data(tabel)

Pengukuran menggunakan jangka sorong

No
Benda yang diukur
Pengukuran dengan jangka sorong(mm)
Pengkuran dengan mister (mm)
Selisih
1
2
3
Rata-rata
1.
Diameter dalam gelas kimia
50.40
50.30
50.05
50.25
50
0.25
2.
Diameter luar gelas kimia
50.75
55.35
54.05
53.08
54
0.62
3.
Kedalaman air
50.25
50.05
50.10
50.12
49
1.12

    Pengukuran menggunakan Mikrometer sekrup

No
Benda yang diukur
Pengukuran dengan Mikrometer sekrup


1
2
3
Rata-rata
1.
Mister
1.81
1.82
1.80
1.81
2.
Triplek
3.25
3.93
4.32
3.83
3.
Uang logam
1.70
1.75
1.73
1.72

   Stopwatch

No
Nama
Banyak denyutan
Waktu(Detik)
Rata-rata
Keadaan diam
Setelah berlari
1.
A. Gafur
30
25.1 sekon
12.3 sekon
0.625
2.
Sharniaty
30
18.3 sekon
13 sekon
0.52

  1. Analisis data
Jangka sorong

v  Diameter dalam gelas kimia dengan jangka sorong
1.      skala tetap         = 50.1 mm
skala nonius       = 6 mm
                              =  6 x 0,05 =0,30
                              =50,1 + 0,30 = 50,40

                                 2. Skala tetap            =  50
                                     Skala nonius         =6 x 0,05 =0,30
                                                                   = 50 + 0,30 =50,30
                                 3.skala tetap              = 50
                                    Skala nonius           =1 x 0,05 =0,05
                                                                   = 50 + 0,05 =50,05
v  diameter luar gelas kimia dengan jangka sorong
         1. skala tetap             = 50,5
              Skala nonius         =5 x 0,05 =0,25
                                           =50,5 + 0,25 =50,75
          2. skala tetap             =55
              Skala nonius          = 7 x 0,05 = 0,35
                                            = 55 +0,35 = 55,35
          3. skala tetap             = 54
              Skala nonius          = 1 x 0,05 =0,05
                                            = 54 + 0,05 = 54,05

v  kedalaman air
1. Skala tetap       = 50
    Skala nonius    = 5 x 0, 05 =0, 25
                            = 50 + 0, 05 =50, 25
2. Skala tetap       = 50
    Skala nonius   = 1 x 0, 05 = 0, 05
                            = 50 + 0, 05 =50, 05
3. Skala tetap       = 50
                             = 2 x 0, 05 = 0, 10
                            = 50 + 0, 10 = 50, 10

Selisih pengukuran menggunakan jangka sorong dengan mistar.

                        Diameter dalam gelas
§   50,25 -50 = 0,25
Diameter luar
§   54 – 53,38 = 0,62
Kedalaman air
§   50,12 – 49 =1,12

Nilai rata – rata
1)      Diameter dalam gelas kimia =50,40 + 50,30 +50,05 = 50,25 mm
3                              
2)      Diameter luar gelas kimia     = 50,75 + 55,35 + 54,05 =53,38 mm      
3
         3) kedalaman air                         = 50,25 + 50 05 + 50,10 =50,12 mm
                         
                                                            3

                                                Mikrometer sekrup

A.    Mistar

1)      Skala tetap             = 1,5
Nonius = 31 x 0,01 = 0,32
            = 1,5 + 0,32 = 1,82
2)      Skala tetap             = 1,5
            = 32 x 0,01 = 0,32
            = 1,5 + 0,32 = 1,82
3)      Skala tetap             = 1,5
            = 30 + 0,01 = 0,3
            = 1,5 + 0,3 = 1,8
a.       Triplek
1)      St                           = 3
Sn        = 25 .  0,01 = 0,25
            = 3 + 0,25 = 3,25
2)      St                           = 3,5
Sn        = 43 . 0,01 = 0,43
            = 3,5 + 0,43 = 4,32
3)      St                           = 4
Sn        = 32 . 0,01 = 0,32
            = 4 + 0,32 = 4,32
b.      Uang logam
1)      St                           = 1,5
Sn        = 20 . 0,01 = 0,20
            = 1,5 + 0,20 = 1,70
2)      St                           = 1,5
Sn        = 25 . 0,01 = 0,25
            = 1,5 + 0,25 = 1,75
3)      St                           = 1,5
Sn        = 23 . 0,01 = 0,25
            = 1,5 + 0,25 = 1,75


Rata-rata
a.       Mistar              = 1,81 + 1,82 + 1,8 = 1,81
               3
b.      Triplek             = 3,25 + 2,93 + 4,32 = 3,83
   3
c.       Uang logam     = 1,70 + 1,75 + 1,73 = 1,72
   3


                                 STOPWATCH

  1. Abdul Ghafur
Dalam keadaan diam Abdul Ghafur menghabiskan waktu 25,1 s untuk menghasilkan 30denyutan, sedangkan setelah berlari ia menghabiskan waktu 12,3 s
Sehingga rata-rata waktu yang dihabiskan Abdul Gafur dalam keadaan diam dam setelah berlari adalah  0,625 s
  1. sharniaty
dalam keadaan diam sharniaty menghabiskan waktu 18,3 s untuk menghasilkan 30 denyutan, sedangkan setelah berlari ia menghabiskan waktu  13 s.
rata-rata waktu yang dihabiskan sarniaty dalam keadaan diam dan setelah berlari adalah 0,52 s.


F. Pembahasan

            Pada pembahasan ini membahas tentang alat ukur, yakni alat ukur panjang ( jangka sorong ), alat ukur ketebalan benda (mikrometer sekrup), dan alat ukur waktu (stopwatch ). Jangka sorong merupakan alat ukur panjang yang terdiri dari rahang tetap dan rahang sorong. Rahang sorong dilengkapi dengan skala nonius dimana selisih antara rahang sorong dengan moniusnya adalah 0,5 mm, bila di bandingkan pengukuran dengan mistar, alat ukur jangka sorong dilakukan hingga ukuran terkecil karena jangka sorong ini memiliki ketelitian yang cukup tinggi.
            Dalam pengukuran dengan jangka sorong ketelitian yang digunakan adalah 0,05 mm, dengan mikrometer sekrup adalah 0,01 mm. dan stopwatch dapat kita gunakan untuk mengukur dfenyut nadi seseorang. Dalam pengamatan yang dilakukan , terdapat perbedaan waktu.
            Pada skala noniusnya diperlukan kejelian mata keren benar-benar harus dicermati angka yang bergaris lurus antara skala  tetap dan skala nonius. Pada saat praktikum untuk pengukuran panjang atau lebar benda, antara saya, teman-teman, dan co.ass ada perbedaan pendapat pada saat pengukuran.
            Adanya perbedaan waktu dalam pengukuran jumlah denyut nadi, disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya faktor aktivitas/gerak seperti duduk, jalan-jalan, dan berlari.
           
G. Kesimpulan
            Dalam suatu pengukuran perlu adanya alat ukur, seperti yang kita yang telah kita ketahui , misalnya jangka sorong, mikrometer sekrup, dan stopwatch. Dari ketiga alat tersebut memiliki fungsi dan ketelitian yang berbeda-beda.
            Jangka sorong digunakan  untuk mengukur panjang benda-benda tang tipis, misalnya mengukur diameter bagian luar atau bagian dalam sebuah gelas kimia. Dan jangka sorong memiliki ketelitian 0,1 mm, dan pada saat perkembangan zaman selanjutnya ada jangka sorong yang memiliki ketelitian sampai dengan 0,05 mm.
            Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur ketebalan suatu plat tipis dengan lebih teliti. Misalnya kita ingin mengukur ketebalan kertas maka kita menggunakan mikrometer sekrup.
            Dan stopwatch adalah alat yang digunakan untuk mengukur waktu, yang biasanya digunakan untuk mengukur kecepatan denyut nadi dan lain-lain.

ACARA II

BANDUL MATEMATIS


A. Pelaksanaan
  1. hari/tanggal      :minggu,24 oktober 2010
  2. waktu              :11.50-12.00
  3. tempat              :ruang 11


B. Landasan teori

            Bandul matematis merupakan benda ideal yang terdiri dari sebuah benda (bandul) yang digantung pada tali yang massa nya diabaikan. Apa bila bandul di sampingkan dengan sudut    dari posisi kesetimbangan nya lalu di lepas kan maka bandul akan berayun dalam bidang vertikal karena adanya pengaruh gaya gravitasi.
            Apa bila pada bandul yang bermassa m dan dengan panjang tali   dan ditarik dengan sudut   terhadap arah vertikal dengan gaya yang bekerja adalah gaya berat mg dengan gaya tarik f. elemen gaya pada arah radikal adalah mg cos   dan arah tangen sial adalah mg sin.       .
            Dalam ayunan nya bandul mengalami suatu gerak yang terjadi apa bila sistem kesetimbangan nya terganggu dari posisi semula, itulah yang disebut dengan gerak osilasi. Contoh : perahu kecil, yang berayun naik-turun dipermukaan laut, bandul jam dan lain-lain.

            Untuk mencari percepatan gravitasi digunakan rumus: T=2     
Dimana  T= periode bandul (s)
     = panjang tali (m)
G   = percepatan gravitasi ().



C. Alat dan Bahan

            Alat :
  1. benang
  2. stopwatch
  3. meteran
  4. statip
  5. beban

Bahan :
1.       bandul
2.      busur derajat

 D. Langkah kerja

1)      menyiapkan alat dan bahan
2)      mengukur panjang tali
3)      menggantungkan bandul pada tali dengan panjang tertentu
4)      mengukur simpangan dengan busur derajat
5)      melepaskan bandul dan menghitung waktunya untuk 20 ayunan
6)      mengulangi 2 sampai 5 untuk beberapa panjang tali yang sama massa nya.
7)      Mencatat hasil pengamatan

E. Hasil Pengamatan


1        .tabel
No
Panjang tali (m)
Banyak ayunan
Waktu (s)
Periode (T)
Percepatan (g)
1
0,2 m
20
a.       19,80 s
b.      18,70 s
c.       18,61 s
0,95
8,739
2
0,4 m
20
a.       25,71 s
b.      25,76 s
c.       25,80 s
1,28
9,628
3
0,6 m
20
a.       31,54 s
b.      31,12 s
c.       31,65 s
1,57
9,6
4
0,8 m
20
a.       36,33 s
b.      36,21 s
c.       36,43 s
1,81
9,630
5
1 m
20
a.       40,53 s
b.      40,78 s
c.       40,53 s
2,03
9,570

Percepatan gravitasi           = 91 + 92 + 93 + 94 + 95
                                                              5

                                           = 8,739 + 9,628 + 9,6 + 9,630 + 9,570
                                                                        5
                                           = 47,167
                                                   5
                                           = 9,4334 m/s2

2        .Analisis Data
a.       Periode (T)
-          T1  = t        = 19,03            = 0,95 s
   n             20
-          T2  = t        = 25,78            = 1,289 s
   n            20
-          T3  = t        = 31,43            = 1,57 s
   n            20
-          T4  = t        = 36,32            = 1,816
   n            20
-          T5  = t        = 40,61            = 2,03
   n            20
Dimana rata-rata waktunya adalah :
T1        = 19,80 + 18,70 + 18,61 = 19,035 s
                               3
T2        = 25,71 + 25,76 + 25,88 = 25,78 s
                               3
T3        = 31,54 + 31,12 + 31,56 = 31,43 s
                              3
T4        = 36,33 + 36,21 + 36,43 = 36,32 s
                              3
T5        = 40,53 + 40,78 + 40,53 = 40,61 s
                             3
b.      Percepatan Gravitasi (g)
-          g1  = 4π2 l
     T2
= 4(3,14)2 . 0,2
        (0,95)2
= 4(9,8596) . 0,2
         0,9025
= 7,88768 = 8,7398 m/s2
    0,9025
-          g2  = 4 π2 l
      T2
= 4(3,14) . 0,6
      (0,95)2
= 4(9,8596) . 0,2
        0,9025
= 7,88768        = 8,7398 m/s2
    0,9025
-          g3  = 4 π2 l
     T2
= 4(3,14) . 0,6
      (1,57)2
= 4 (9,8596) . 0,6
        2,4649
= 23,663 = 9,6 m/s
   2,465
-          94   = 4 π2 l
     T2
= 4 (3,14)2 . 0,6
      (1,81)2
= 4 (9,8596) . 0,8
        3,276
= 31,550 = 9,630 m/s2
   3,276

-          95    = 4 π2 l
     T2
= 4 (3,14)2 . 1
      (2,03)2
= 4 (9,8596) . 1
        4,121
= 39,438  = 9,570 m/s
    4,121




F. Pembahasan

            Bandul matematis disebut juga bandul sederhana, salah satu system fisis yang bergerak mengikuti gerak harmonik sederhana. Bandul matematis merupakan benda ideal yang terdiri dari sebuah titik massa yang dapat digantung pada tali ringan yang tidak mempunyai massa. Apa bila bandul di simpang kan dengan sudut 0 dari posisi setimbang nya kemudian di lepaskan, maka bandul akan berayun dalam bidang vertikal karena di pengaruhi oleh gaya gravitasi.
            Pada dasarnya prinsip kerja dari bandul adalah bergerak melewati titik kesetimbangan . dalam bandul matematis dikenal dengan adanya gerak osilasi yaitu suatu gerak yang terjadi bila se buah sistem di ganggu dari posisi kesetimbangan stabil nya..
            Lambat atau cepat nya bandul bergerak itu sebanding dengan waktu yang diperlukan, pertambahan panjang tali juga mempengaruhi pergerakan dari bandul itu sendiri.
            Untuk mengetahui nilai gravitasi bumi menggunakan rumus (g = 4/ T )             
  sedangkan untuk mengetahui waktu atau periode (T) yang diperlukan  dalam satu kali ayunan
menggunakan rumus (T=t ) dan ukur grafik hubungan antara panjang tali (e) dengan
                                        n
ayunan (T ) berbanding lurus karena semakin panjang tali yang digunakan maka semakin besar waktu yang diperlukan dalam satu ayunan.


G. Simpulan

            Dari pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa panjang tali sangat berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan bandul untuk bergerak bolak-balik dalam artian bahwa, jika tali nya panjang juga waktu yang di perlukan yang semakin banyak, jadi 1 sebanding dengan t.





ACARA III

KONSTANTA PEGAS

 A. Pelaksanaan

  1. hari / tanggal    : minggu, 24 Oktober  2010
  2.  waktu             :11.10 – 11.40
  3.  tempat             : ruang 13


 B. Landasan Teori

            Pegas pada dasar nya adalah suatu sistem yang bekerja dengan digetarkan sejauh  x dengan massa m dan gaya f.
            Jika anda menggantungkan sebuah beban dengan berat mg, pegas akan bertambah panjang sebesar x, apa bila beban anda tambah menjadi 2 kali beban semula, maka pegas akan bertambah 2 kali perpanjangan semula, dan seterusnya .
            Apa bila anda membuat grafik hubungan berat dengan mg dengan pertambahan panjang pegas akan diperoleh suatu garis. Dengan demikian, dapat di katakan bahwa pertambahan panjang pegas berbanding lurus dengan besar gaya yang menyebabkan nya.
            Grafik hubungan antara besar gaya dan pertambahan panjang merupakan garis lurus dengan membentuk sudut terhadap horizontal (x) sehingga besar tan  merupakan suatu konstanta atau tetapan.
Tan=  = k
              X

Atau f berbanding lurus dengan x sehingga di peroleh hubungan F =…….kx (1)
 F = besar Gaya (N)
K = konstanta atau tetapan pegas (N/m)
X = pertambahan panjang pegas (m)

Perumusan di atas merupakan perumusan dari Hooke. Berdasarkan uraian di atas, berat beban merupakan aksi, sedangkan reaksi nya adalah gaya pegas atau gaya pemulih yang besar nya F=k.x 0besar gaya pemulih F = -kx tanda (negatif) menunjukkan bahwa arah nya berlawanan dengan berat beban yang menyebabkan nya.

 C. Alat dan Bahan
            Alat :
1.      pegas
2.      statip
3.      penggaris

Bahan :
1.      beban

 D. Langkah kerja
 a) Langkah kerja penambahan pegas
1)      mengukur panjang pegas mula-mula
2)      Menimbang beban (menghitung berat beban) dan mengukur panjang pegas setelah menimbang 1 beban.
3)      Menambah beban (menimbang 2 beban) kemudian mengukur panjangnya
4)      Menambah beban sampai dengan 5 kali dan menghitung panjang pegas nya setelah di tambah beban satu demi satu.
5)      Mencatat hasil pengamatan
 b) Langkah kerja pengukuran beban
1)      Mengukur panjang pegas yang menimbang 5 beban
2)      Mengukur panjang pegas yang telah dikurangi beban satu demi satu sampai dengan mengukur panjang pegas semula
3)      Mencatat hasil pengamatan.

 E. Hasil Pengamatan
1) Data (tabel)




   0,01 P E G AS
1)      Penambahan Beban
No
Beban (kg)
Panjang awal (xo)
Panjang akhir (x)
Perubahan panjang (Dx)
Gaya (F)
Konstanta
1
2
3
4
5
6
0
0,01 kg
0,02 kg
0,03 kg
0,04 kg
0,05 kg
0,156 m
0,156 m
0,156 m
0,156 m
0,156 m
0,156 m
0
0,158 m
0,160 m
0,162 m
0,164 m
0,166 m
0
0,002 m
0,004 m
0,006 m
0,008 m
0,010 m
0
0,1 N
0,2 N
0,3 N
0,4 N
0,5 N
0
50
50
50
50
50



2)      Pengurangan Beban
No
Beban (kg)
Panjang awal (xo)
Panjang akhir (x)
Perubahan panjang (Dx)
Gaya (F)
Konstanta
1
2
3
4
5
0,05 kg
0,04 kg
0,03 kg
0,02 kg
0,01 kg
0,166 m
0,166 m
0,166 m
0,166 m
0,166 m
0,166 m
0,164 m
0,162 m
0,160 m
0,158 m
0
- 0,002 m
- 0,004 m
- 0,006 m
- 0,008 m
0,5 N
0,4 N
0,3 N
0,2 N
0,1 N
Tak terdefinisi
- 200
- 50
- 33,3
- 12,5

1.      Analisis Data
a.       Penambahan Beban
. Pertambahan panjang (∆x)
1)      ∆x        = x – xo
= 0 – 0,156
= - 0,156 m
2)      ∆x        = x – xo
= 0,158 – 0,156
= 0,002 m
3)      ∆x        = x – xo
= 0, 16 – 0,156
= 0,004 m
4)      ∆x        = x – xo
= 0,162 – 0,156
= 0,006 m
5)      ∆x        = x – xo
= 0,164 – 0,156
= 0,008 m
6)      ∆x        = x – xo
= 0,166 – 0,156
= 0, 01 m
Gaya (F)
1)      F          = m. g
= 0. 10
= 0

2)      F          = m. g
= 0, 01 x 10
= 0, 1 N
3)      F          = m. g
= 0, 02 x 10
= 0, 2 N
4)      F          = m. g
= 0, 03 x 10
= 0, 3 N
5)      F          = m. g
= 0, 04 x 10
= 0, 4 N
6)      F          = m . g
= 0,05 x 10
= 0,5 N

Konstanta (k)
1)      K         =  F
   ∆x
= 0
   0
= -
2)      K         =  F
   ∆x
=   0,1_
   0,002
= 50 m/s2


3)      K         =  F
   ∆x
=   0,2_
   0,004
= 50 m/s2

4)      K         =  F
   ∆x
=   0,3_
   0,006
= 50 m/s2
5)      K         =  F
   ∆x
=   0,4_
   0,008
= 50 m/s2
6)      K         =  F
   ∆x
= 0, 5

= 50 m/s2

b.      Pengurangan Beban
Pertambahan Panjang (∆x)
1)      ∆x        = x – xo
= 0,166 – 0,166
= 0
2)      ∆x        = x – xo
= 0,164 – 0,166
= 0,002 m
3)      ∆x        = x – xo
= 0,162 – 0,166
= 0,004 m
4)      ∆x        = x – xo
= 0,160 – 0,166
= 0,006 m
5)      ∆x        = x – xo
= 0,158 – 1, 66
= - 0,008 m


Gaya (F)
1)      F          = m . g
= 0,05 x 10
= 0,5 N
2)      F          = m . g
= 0,04 x 10
= 0,3 N
3)      F          = m . g
= 0,03 x 10
= 0,3 N
4)      F          = m . g
= 0,02 x 10
= 0,2 N
5)      F          = m . g
= 0,01 x 10
= 0,1 N

·         Konstanta (K)
1)      K         =  F
   ∆x
=  0,5
      0
= -
2)      K         =  F
   ∆x
=  0,4
   0,02
= - 200 m/s2
3)      K         =  F
   ∆x
=    0,3_
   -0,004
= - 50 m/s2


4)      K         =  F
   ∆x
=  0,2
   0,006
= - 333,333 m/s2

5)      K         =  F
   ∆x
=   0,1__
   -0,008
= - 12,5 m/s2


F. Pembahasan
            Berdasarkan hukum hooke besarnya konstanta pegas sebanding dengan gaya dan berbanding terbalik dengan pertambahan panjang. Prinsip kerja pegas berdasarkan getaran selaras adalah naik turun disertai dengan gaya gravitasi bumi, besarnya percepatan gravitasi bumi berbanding lurus dengan panjang tali dan berbanding terbalik dengan kuadrat periode bend tersebut. Adanya pertambahan panjang pada pegas setelah ditambah beban dengan sebelum ditambah beban, disebabkan karena tidak lepas dari sifat pegas itu sendiri yaitu keelestatisnya.
            Berdasarkan grafik pengamatan di atas, semakin besar massa benda maka periode benda tersebut semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Karena Massa benda berbanding terbalik dengan periode benda tersebut.


 G. Simpulan
            Ada beberapa kesimpulan yang dapat kami simpulkan diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Semakin banyak beban yang digunakan maka semakin lambat gerakan yang dilakukan oleh pegas tersebut dan semakin besar pula pertambahan panjangnya.
  1. Besarnya kostanta pegas pada awal penambahan dan pada akhir penambahan beban itu berbeda, sedangkan pada pertengahan dari penambahan beban besar kontanta pegas tersebut Sama baik berdasarkan hukum hooke maupun berdasarkan get5aran selaras.



ACARA IV

KALORIMETER


A.    Pelaksanaan
1)      Hari          :minggu, 24 Oktober 2010
2)      Waktu       :10.30-11.00
3)      Tempat     :ruang 12


 B. Landasan teori
            Kalor adalah perpindahan energi dari benda berenergi termal tinggi ke benda berenergi termal rendah. konvensi adalah proses perpindahan kalor oleh pergerakan fluida (zat cair atau gas).konvensi alami adalah pergerakan fluida ke atas dan ke bawah yang disebabkan oleh perbedaan suhu.
            Suatu benda yang mempunyai suhu lebih tinggi dari fluida bila dicelupkan ke dalam fluida maka benda tersebut akan melepaskan kalor yang akan di serap oleh pluida hingga tercapai keadaan setimbang (suhu benda-suhu fluida)
            Fenomena di atas sesuai dengan asas black yang menyatakan bahwa “jumlah kalor yang dilepaskan oleh benda sama dengan jumlah kalor yang diserap fluida”.
            Titik didih air tergantung pada tekanan udara, panas benda padat dapat dihitung dengan menggunakan rumus:  m c (t – t ) =( m c + H )(t – t )
            Keterangan: m = Massa benda
                                 C = panas jenis benda
                                  T = temperatur benda
                                 H = harga kalori meter

C. Alat dan Bahan
Alat:
a.       Gelas beker
b.      Kalori meter
c.       Termometer
d.      Spiritus
e.        Kaki tiga
f.        Kasa
g.      Timbangan analitik
     Bahan:
a.       Air
b.      Tissu
c.       Korek api

 D. Langkah kerja
  1. menyiapkan alat dan bahan
  2. menimbang kalori meter
  3. mengisi kalori meter dengan air kemudian menimbang nya
  4. mengukur suhu air
  5. memasukkan air 600 mm ke dalam gelas kimia kemudian di panaskan dengan spritus
  6. menghitung lama proses pemanasan dengan stopwatch sampai air mendidih
  7. menimbang gelas kimia kosong
  8. mengukur suhu air yang telah dipanaskan dengan termometer
  9. menimbang berat ( massa jenis air ) yang telah di panaskan kemudian dimasukkan ke dalam kalori meter untuk di ukur massa jenis/ suhunya
  10. menulis hasil pengamatan

 E. Hasil pengamatan

1.      Tabel
MASA
MASA
TEMPERATUR
Kilometer
Kalori meter + Air
Air
Gelas beker
Gelas Beker + Air panas
Air Panas
t1
t2
t3
131,23
228,30 gr
97,67
64,64
112,93
48,29
30oC
93oC
64oC
0,13123 kg
0,22830 kg
0,09767 kg
0,06464 kg
0,11293 kg
0,04829 kg
303 k
366 ko
337 ko

Keterangan:
t1   = temperatur air dingin
t2   = temperatur air panas
t3   = temperatur air setelah setimbang (dalam kalori meter)

2.      Analisis Data
Masa kalori meter              = 131, 23 gr
                                          = 0, 13123 kg
Masa kalori meter              = 228, 30 gr
                                          = 0, 22830 kg
Masa air (Ma)                    = 97, 67 gr
                                          = 0, 06461 kg
Masa gelas beker               = 64, 64 gr
                                          = 0,06464 kg
Masa gelas beker + air       = 112,93 gr
                                          = 0,11293 kg
Masa air panas (Ma)          = 48, 29 gr
                                          = 0, 04829 kg
t1    = 30oC + 273
      = 303oK
t2    = 93oC + 273
      = 366oK
t3   = 64oC + 273
      = 337oK
Mb. cb (tb – t2) = (Ma Ca + H) (t2 – t1)
Mb (tb – t2) – Ma = H
   (t2 – t1)
H   = Mb (tb – t2) – Ma (t2 – t1)
                  (t2 – t1)
      = 0,04829 (366 – 337) – 0,09767 (337 – 303)
                                   357 – 303
      = 0,04829 x 29 – 0,09767 x 34
                             34
      = 1,4041 – 3,32078
                     34
      = - 0,056

 F. Pembahasan
            Kalor adalah energi yang merambat / berpindah karena adanya perbedaan suhu, konduksi adalah perpindahan kalor dalam suatu median tanpa disertai perpindahan partikel dari median itu, sedangkan radikal sendiri adalah perpindahan kalor tanpa memerlukan medium perantara, karena pengaruh kalor, zat-zat tersebut dapat berubah wujud dari padat menjadi cair, cair menjadi uap, gas menjadi c air. Selama terjadi perubahan wujud, jumlah kalor yang diserap atau di lepaskan oleh zat tidak mengubah suhunya selama perubahan wujud di sebut suhu transisi dan kalor yang di perlukan oleh setiap satuan massa zat untuk mengubah wujudnya, disebut kalor.
           




 G. Simpulan 
1)      Titik didih air tergantung pada tekanan udara
2)      Efisiensi panas adalah perbandingan antara panas yang dihasilkan dengan panas yang di gunakan
3)      Jumlah kalor yang di serap oleh benda yang sama dengan jumlah kalor yang di lepaskan
4)      Kalori meter adalah alat yang di gunakan untuk mengukur kalor



BAB III

PENUTUP

 A. Kesimpulan
  1. semakin banyak beban yang di gantung pada pegas semakin besar nilai yang di hasilkan
  2. Ternyata tali sangat berpengaruh terhadap waktu yang di perlukan bandul untuk bergerak bolak-balik.
  3. Sangat jelas disini bahwa masing-masing alat ukur berbeda hasil pengukuran antara jangka sorong, mikrometer sekrup sangat berbeda hasilnya karena dari masing-masing alat ukur tersebut ketentuan nya berbeda.
  4. dalam denyut nadi untuk 30 detik setiap seorang itu berbeda-beda, hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain: makan, minum, dan pekerjaan

B.     Saran
  1. Minta tolong kepada Co.Ass. Waktu yang diberikan untuk menyusun laporan agar di perpanjang sedikit saja.

C.    Kritik
  1. materi jangan terlalu cepat atau terburu-buru kalau menjelaskan


           





DAFTAR PUSTAKA



Tim sains fisika.2004.fisika 1: Semarang
Purwanto,Budi,Drs.Msi.2004.fisika dasar:Surakarta
Vancleave Janice.2004.a+proyek-proyek fisika.Bandung
Daryanto,Drs.2003.fisiska tekhnik:Jakarta
Rineka cipta hikam,Muhammad.Dr.dkk.2003:  Jakarta

1 komentar: