Minggu, 01 April 2012

laporan tetap kimia


BAB II
PEMBAHASAN
A.  ACARA I : GAS
1.    PRODUKSI GAS ASETYLEN
a.    Pelaksanaan
1)   Hari, Tanggal       : Minggu, 17 April 2011
2)   Waktu                   : 09.57 WITA-selesai
3)   Tempat                 : Lapangan Kampus II
4)   Tujuan                  : Untuk mengetahui reaksi dari kalsium karbida bila di campur       dengan air dalam suatu wadah (balon) dan untuk mengetahui proses ledakan dari gas asetylen.

b.    Landasan Teori
Las Gas, yang dilapangan lebih dikenal dengan istilah las karbit, sebenarnya adalah pengelasan yang dilaksanakan dengan pencampuran 2 jenis gas sebagai pembentuk nyala api dan sebagai sumber panas. Dalam proses las gas ini, gas yang digunakan adalah campuran dari gas Oksigen (O2) dan gas lain sebagai gas bahan bakar (fuel gas).  Gas bahan bakar yang paling popular dan paling banyak digunakan dibengkel-bengkel adalah gas Asetilen ( dari kata “acetylene”, dan memiliki rumus kimia C2H2 ). Gas ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gas bahan bakar lain. Kelebihan yang dimiliki gas Asetilen antara lain, menghasilkan temperature nyala api lebih tinggi dari gas bahan bakar lainya, baik bila dicampur dengan udara ataupun Oksigen.
Gas-gas lain yang juga berperan adalah gas propane (LPG), methane dan hydrogen. Karena temperature nyala api yang dihasilkan lebih rendah dari gas asitilen maka ketiga jenis gas ini jarang dipakai sebagai gas pencampur.
Seperti disebutkan, gas Asetilen merupakan jenis gas yang paling banyak digunakan sebagi bahan pencampuran dengan gas Oksigen. Jika gas Asetilen digunakan sebagi gas pencampur maka seringkali proses pengelasan disebut dengan las karbit. Gas Asetilen ini sebenarnya dihasilkan dari reaksi batu Kalsium KARBIDA (orang-orang menyebut karbit) dengan air. Jadi jika Kalsium Karbida ini disiram atau dicelupkan ke dalam air maka akan terbentuk gas Asetilen. Jadi penyebutan nama las karbit hanya untuk mencirikan bahwa gas yang digunakan salah satunya adalah gas Asetilen. Selain dikenal dengan nama las karbit, kadang-kadang masyarakat umum menyebut kan juga dengan nama lain yaitu las MDQ. Penyebutan nama MDQ ini sesungguhnya mengacu pada satu merk batu karbit. Jadi nama las karbit atau las asetilen atau las MDQ sebenarnya adalah satu nama proses las yan sama. Untuk dapat melakukan pengelasan dengan cara las gas, diperlukan peralatan seperti tabung gas Oksigen dan tabung gas Asetilen, katup tabung, regulator (pengatur tekanan gas), selang gas dan torch (brander). Kedua gas Oksigen dan Asetilen keluar dari masing-masing tabung dengan tekanan tertentu, mengalir menuju torch melalui regulator dan selang gas. Setelah sampai di torch kedua gas tercampur dan akhirnya keluar dari ujung nosel torch. Dengan bantuan pematik api, campuran gas yang keluar dari ujung nosel membentuk nyala api denagn intensitas tertentu
untuk melihat Proses las gas (pada tutorial  ini akan sering disebutkan las gas untuk mencirikan bahwa las yang dimaksud adalah las yang melibatkan campuran gas Oksigen dan gas bahan bakar) umumnya dipakai secara manual yaitu dikerjakan oleh tangan juru las. Pengaturan panas dan pemberian kawat las dilakukan oleh kombinasi kedua tangan juru las. Oleh karena itu, kualitas sambungan nantinya akan dipengaruhi oleh ketrampilan dan keahlian si juru las. Sebenarnya sudah ada pengembangan dari proses las gas ini menjadi semi-otomatis atau “dimensikan”. Tentu saja hal itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan kualitas sambungan yang lebih baik. Dengan system yang sudah otomatis maka pengaturan panas dan pemberian kawat las akan lebih baik lagi. Kebanyakan otomatis system diterapkan apada operasi-operai pemotongan pelat logam dimana pada sistem itu kecepatan pemotongan dapat diatur. Proses las gas dapat dilaksanakan dengan pemberian kawat las (atau istilah logam pengisi) atau tidak sama sekali. Satu syarat dimana diperlukan logam pengisi atau tidak adalah dilihat dari ketebalan pelat yang akan di las. Jika pelat itu tipis maka untuk menyambungnya dapat dilakukan tanpa memberikan logam pengisi, sedangkan untuk pelat-pelat tebal diperlukan logam pengisi untuk menjamin sambungan yang optimal. Jika pada pelat tipis dipaksakan harus diberi logam pengisi maka hal itu mungkin saja dilakukan. Akan tetapi pada daerah sambungan akan nampak tonjolan logam las yang terlihat kurang baik. (http://obey2008.wordpress.com/2009/02/25/269/)
Gas selalu menekan ke segala permukaan yang bersinggungan dengannya. Tekanan merupakan salah satu sifat gas yang paling mudah di ukur. ( Agus Abhi, 134: 2006 ).
Suatu gas tak mempunyai bentuk, gas mengambil bentuk dari wadahnya. Gas tak mempunyai volume yang tertentu, melainkan dapat dimampatkan maupun dimuaikan  menurut perubahan ukuran wadah. Volume wadahnya adalah volume gas. ( Keenan, 246 : 2001 ).
Partikel gas selalu bergerak secara bebas ke segala arah, akibatnya gas akan mengisi ruangan yang dapat dimasukinya. Karena itu menyimpan gas harus dalam bejana (ruang) tertutup rapat. Suatu sistem gas akan mempunyai volume dan jumlah partikel tertentu. Partikel itu mempunyai energi kinetik yang menyebabkan ruangan mempunyai suhu tertentu. Gerakan itu menimbulkan tekanan terhadap dinding bejana. ( Syukri, 266 :2000 ).
Anerdo Avogadro menyatakan bahwa pada suatu tekanan yang sama, semua gas dengan volume yang sama mengandung jumlah molekul yang sama, atau suhu dan tekanan tetap volume yang di tempati oleh suatu gas berbanding langsung dengan jumlah mol gas, atau dapat dinyatakan sebaga v.n atau v = k.n . ( Sastrohamidjojo, 133 : 2005 ).


c.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Karet gelang
b)   Balon karet
c)    Pipet tetes
d)   Tali rapia
e)    Korek api
f)     Ember
g)   Palu

2)   Bahan
a)    Calcium Carbida (CaC2)
b)   Aquades
c)    Sampah

d.    Cara Kerja
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Meneteskan air, dengan alat penyemprot sekitar 2-3 ml air ke dalam balon.
3)   Masukkan CaC2, dengan cara mendorongkan potongan kalsium karbida (CaC2), sampai melewati leher balon. Mencubit-cubit balon sampai menempati tempat yang lebih dalam, kemudian leher balon diikat.
4)   Melepaskan balon dan mengamati pemuaiannya.
5)   Ketika reaksi dan ekspansi balon berhenti, kemudian ikat balon tersebut pada tiang sampai beberapa meter, kemudian didekatkan dengan suatu pembakar.
6)   Mengamati ledakan yang terjadi pada saat pembakaran
e.    Hasil Pengamatan
1)   Gambar
Keterangan:
1.    Api
2.    Balon Karet
3.    Gas asetylen yang terbentuk dari air dengan kalsium karbida (CaC2)
4.    Tali Rapia
2)   Deskripsi
Besar kecilnya pengembangan yang terjadi pada balon dipengaruhi oleh banyaknya air dan kalsium karbida yang dimasukkan kedalam balon tersebut.Dan begitu pula apabila semakin besar balon maka semakin besar ledakan yang dihasilkan
f.     Pembahasan
Produksi gas asetilen dengan pencampuran CH dengan air yang di masukkan ke dalam balon yang di tutup, sehingga menimbulkan pengembangan pada balon karna terdapat gas yang telah bereaksi di dalamnya, gas itu terdiri dari molekul-molekul yang bergerak ke jalan yang lurus ke segala arah dengan kecepatan yang tinggi pula sehingga gas bertumbukan denga molekul-molekul yang lain atau dengan dindinng balon yang menyebabkan adanya tekanan, sehingga balon tersebut mengembang yang membutuhkan waktu kurang lebih 34 detik.Proses pengembangan pada balon sangat bergantung pada banyak sedikitnya pencampuran CH dengan HO.
Dari pencampuran C

H dengan HO dapat menghasilkan respon sehingga dapat berproduksi menjadi gas asetylen Karena adanya gas asetylen mengakibatkan terjadinya ledakan sehingga penggunakan secara komersial dari gas asetylen sangat berpengaruh terhadap peledakan balon semakin banyak gas yang dihasilkan maka semakin besar pula ledakan yang dihasilkan sehingga kita dapat mengetahui struktur molekul dari asetylen tersebut.
g.    Kesimpulan
Dari hasil pratikum kami dapat menyimpulkan bahwa :reaksi kalsium karbida didalam balon menghasilkan  gas yang ditandai dengan pengembangan balon dan dar letusan yang dihasilkan.Letusan yang dihasikan tergantung padabanyak kurangnya kalsium karbida dan air yang dimasukkan kedlam balon sehingga pada kit adapt mengetahui reaksi yang terjadi yaitu :
CaC (s) + 2HO (i) → Ca (OH) (s) + CH (g)
Dan pada  saat letusan gas asetylen terdapat reaksi
2 CH (g) + CO (g) → 4CO (g)  + 2HO(g) + Panas
Jadi ;semakin banyak campuran kalsium karbida dan air yang dimasukkan kedalam air maka akan semakin besar pula ledakan yang dihasilkan.


2.    DIFUSI GAS
a.    Pelaksanaan
1)   Hari/Tanggal        : Minggu, 17 April 2010
2)   Waktu                   : 10.15-selesai
3)   Tempat                 : R.B IV Gedung II Kampus II IAIN MATARAM
4)   Tujuan                  : Untuk mengetahui proses difusi dan membuktikan hukum  Graham’
b.    Landasan Teori

c.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Gelas Piala 11mL
b)   Batang Pengaduk Gelas
c)    Plastic Wrap
d)   Penjepit
e)    Mistar
f)     Tisu
g)   Stopwatch / Hp
2)   Bahan
a)    Kertas Lakmus Merah dan Biru
b)   HCl
c)    NH
d)   Kapas  
d.    Cara Kerja
1)   Cara kerja yang menggunakan HCl
a)    Menyiapkan alat dan bahan
b)   Membersihkan dan mengeringkan dua bagian atau ujung silinder 100 ml
c)    Memasukkan potongan dari kertas lakmus biru ke dalam silinder yang berlabel HCl
d)    Mendorong kertas lakmus ke dasar silinder
e)    Menjepit sumbat katun dibagian ujung penjepit dan mencelupkannya ke cairan HCl
f)     Menaruh sumbatan katun yang sudah dicelupkan cairan HCl kemulut gelas piala
g)   Menutup mulut silinder dengan cepat menggunakan potongan plastic uap
h)   Menghitung waktu yang diperlukan HCl untuk bergerak disepanjang silinder dan sampai kertas lakmus biru menjadi merah
2)   Cara kerja yang menggunakan NH3
a)    Menyiapkan alat dan bahan
b)   Membersihkan dan mengeringkan dua bagian atau ujung silinder 100 ml
c)    Memasukkan potongan dari kertas lakmus merah ke dalam silinder yang berlabel NH3
d)   Mendorong kertas lakmus ke dasar silinder
e)    Menjepit sumbat katun dibagian ujung penjepit dan mencelupkannya ke cairan NH3
f)      Menaruh sumbatan katun yang sudah dicelupkan cairan NH3 kemulut gelas piala
g)   Menutup mulut silinder dengan cepat menggunakan potongan plastic uap
i)     Menghitung waktu yang diperlukan NH3 untuk bergerak disepanjang silinder dan sampai kertas lakmus merah menjadi biru
e.    Hasil Pengamatan
1)   Gambar
a)    HCl
(1).

Keterangan :
1.      Kertas lakmus biru
2.      Gelas kimia



(2)

Keterangan :
1.      Kertas lakmus biru
2.      Gelas kimia
3.      Kapas yang telah dicelupkan  ke larutan HCl
4.      Lidi

(3)

Keterangan :
1.      Kertas lakmus biru berubah menjadi merah
2.      Gelas kimia
3.      Kapas yang telah dicelupkan kelarutan HCl
4.      Plastic wrap
b)   NH3
(1)

Keterangan :
1.      Kertas lakmus merah
2.      Gelas kimia
(2)

Keterangan :
1.      Kertas lakmus merah
2.      Gelas kimia
3.      Kapas yang telah dicelupkan kelarutan NH3
4.      Lidi
(3)

Keterangan :
1.      Kertas lakmus merah berubah menjadi biru
2.      Gelas kimia
3.      Kapas yang telah dicelupkan kelarutan NH3
4.      Plastic wrap
2)   Deskripsi atau analisa data
Dari hasil pengamatan dapat di peroleh bahwa ketika kertas lakmus merah di masukkan ke dalam gelas piala yang di celupkan oleh NH3 di ujung gelas piala, pada ujung gelas piala tersebut di tutup dengan plastic wrap agar tidak ada udara yang masuk, sehingga proses bereaksinya lebih cepat yang bersamaan dengan perhitungan stopwatch, setelah itu lakmus merah berubah menjadi biru dalam waktu kurang lebih 50 detik dengan 18.5 antara kapas dengan perubahan lakmus, sedangkan lakmus biru yang  di masukkan  adalah kapas yang sudah di celupkan HCL dan di tutup dengan kertas wrap sehingga lakmus birupun berubah menjadi merah dalam waktu kurang lebih 70 detik dengan jarak 18 cm dan ke dua tabung piala dalam keadaan di tidurkan / di baringkan.
f.     Pembahasan
Dari hasil peangamatan yang telah di lakukan, kami dapat mengetahui bahwa rasio di pengaruhi oleh kecepatan HCl dan NH3 dengan hasil 1,42, apabila rasio yang di dapatkan tidak mendekati 1,46 berarti ada kesalahan pada pengamatan baik dalam segi pengukuran maupun basah atu tidaknya gelas piala yang di gunakan, karna sangat berpengaruh atau mempengaruhi hasil eksperimen. Oleh karena itu, kita dapat mengetahui rasio dari data eksperimen berbeda dengan rasio secara teori.
            Antara gas dengan laju difusi memiliki hunungan yang erat karna apabila massa lebih tinggi dari pada laju difusi maka akan memperlambat terjadinya reaksi pada massa yang rapatanya rendah begitu juga sebaliknya.
g.    Kesimpulan
Dari hasil pemgamatan dapat kami simpulkan bahwa suatu gas dengan rapatan tinggi akan berdifusi lebih lambat dari pada gas yang rapatanya rendah, sehingga kita dapat membuktikan kebenaran hukum bukan hanya sekedar teori tp dapat membuktikan secara lansung hukum graham pada difusi gas.


B.  ACARA II : PEMURNIAN DAN PEMISAHAN
1.    Dekantasi, Filtrasi, dan Kristalisasi
a.    Pelaksanaan
a)    Hari/Tanggal        : Minggu, 17 April 2010
b)   Waktu                   : 10.30 -selesai
c)    Tempat                 : R. II. III Kampus II IAIN Mataram
d)   Tujuan                  : Untuk mengetahui bagai mana proses dekantasi, filtrasi dan kristalisasi.
b.    Landasan Teori
 Larutan merupakan campuran homogen dari zat terlarut (selulosa) dengan pelarut ( solvent) zat terlarut dapat berupa padat , cair dan gas sedangkan pelarutnya berupa zat cair.
Banyaknya zat terlarut  pada pelarutnya di nyatakan dengan konsentrasi yang umum di kenal dalam kimia antara lain  % berat, % volume,  molaritas (M), molalitas (m), normalitas (N), dan lain-lain. (Drs.Husen junaidi:2000:13)
Satuan konsentrasi Molaritas (M) sangat sering dipergunakan untuk menyatakan banyaknya zat terlarut molaritas (M) adalah banyaknya mol terlarut  yang terdapat dalam 1 L larutan.  1 mol NaOH artinya 1 kali 40 gram NaOH yang dilarutkan dengan 1 Liter air. Di laboratorium tidak selamanya kitamemerlukan 1 L larutan, tapi mungkin lebih kecil dari satu liter larutan misalnya 100 ml, 50 ml, 10 ml dan lain-lain, Sheingga kalau kita membuat satu liter banyak yang tidak terpakai atau mubazir. Pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu usahakan selalu menggunakan labu ukur yang sesui dengan ml larutan yang dibutuhkan, misalnya kalau ingin membuat 100 ml 1 M NaOH maka pakailah labu ukur  100 ml. (Drs.Sagiyo:2000:15)
Konsentrasi larutan dapat dipakai untuk menunjukkan aspek kualitatif dan aspek kuantitatif, istilah encer dan pekat digunakan untuk menunjukkan aspek kualitatif larutan yang mengandung sedikit zat terlarut disebut larutan encer, sebaliknya larutan yang banyak mengandung zat terlarut disebut larutan pekat. (yudistira:2000:15)
Berdasarkan keadaan fase zat setelah bercampur, maka campuran ada yang homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang membentuk suatu satu fase yaitu yang mempunyai sifat dan komposisi yang sama antara satu bagian dengan bagian lain didekatnya. Campuran homogen lebih umum disebut larutan. Contohnya air gula dan alcohol dalam air. Sedangkan campuran heterogen adalah campuran yang mengandung dua fase atau lebih. Contohnya air susu dan kopi. (Syukri, 351:2000)
Suatu larutan dikatakan encer bila sedikit zat terlarut dilarutkan dalam jumlah besar pelarut. Larutan disebut pekat bila jumlah zat terlarutnya banyak sedangkan jumlah pelarutnya sedikit. Bila kita larutkan gula dalam sevolume tertentu air sedikit demi sedikit, akhirnya akan dicapai suatu batas, dimana gula tidak dapat larut lagi. Pada saat ini diperoleh larutan jenuh, yang sebelumnya disebut larutan tak jenuh. ( Sukarjo, 37: 2001)
Kebanyakan reaksi kimia berlangsung bukan antara padatan murni, cairan murni, atau gas murni, melainkan antara ion-ion dan molekul-molekul yang terlarut dalam air atau pelarut lain.
Kimiawan juga membedakan larutan berdasarkan kemampuannya melarutkan zat terlarut. Larutan yang mengandung jumlah maksimum zat terlarut didalam pelarut pada suhu tertentu, dinamakan larutan jenuh. Sebelum titik jenuh tercapai, larutannya disebutlarutan tak jenuh; larutan ini mengandung zat terlarut lebih sedikit dibandingkan dengan kemampuannya untuk melarutkan. Jenis ketiga, larutan lewat jenuh, mengandung lebih banyak zat terlarut dibandingkan yang terdapat didalam larutan jenuh. Larutan lewat jenuh bukanlah larutan yang sangat stabil. Pada saatnya, sebagian zat terlarut akan terpisah dari larutan lewat jenuh sebagai Kristal. Proses terpisahnya zat terlarut dari larutan dan memebentuk Kristal dinamakan kristalisasi. Perhatikan bahwa pengendapan dan kristalisasi kedua-duanya menjelaskan terpisahnya zat padat berlebih dari larutan lewat jenuh. Namun, padatan yang terbentuk melalui kedua proses itu berbeda penampilannya. Kita biasanya membayangkan bahwa endapan terbentuk dari partikel kecil, sementara Kristal dapat berukuran besar dan bentuknya bagus. (Raymond, 4: 2004)
Suatu Kristal padat mempunyai kisi ruang yaitu susunan titik-titik khayalan dalam tiga dimensi yang berulang secara teratur. Partikel itu sambung-menyambung dalam jumlah tak hingga, sehingga tidak mungkin menampilkan semuanya. Oleh sebab itu, struktur kristal cukup digambarkan dengan unit terkecilnya yang disebut sel satuan ( Syukri, 293: 2000)
Sebagian besar reaksi kimia terjadi dalam larutan. Hal ini disebabkan karena zat yang dilarutkan dalam zat pelarut, zat terlarut, akan berada pada ukuran terkecil, berupa molekul-molekul atau ion-ion lainnya. Larutan merupakan campuran antaradua atau lebih zat dengan perbandingan yang dapat diubah. Jumlah suatu zat yang terlarut didalam suatu pelarut di sebut konsentrasi zat terlarut, yang dapat dituliskan dengan istilah molaritas atau molalitas. Larutan membeku pada temperature yang lebih rendah dan akan mendidih pada temperature yang lebih tinggi daripada zat pelarutnya itu sendiri. ( Harold, 81: 2004)
Reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat,bukannya antara dua zat murni. Satu tipe yang lazim dari campuran adalah larutan.   Dalam alam kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air. Kuantitas relatif suatu zat tertentu dalam suatu larutan disebut konsentrasi. Konsentrasi merupakan faktor penting dalam menentukan betapa cepatnya suatu reaksi berlangsung dan dalam beberapa hal, dalam menentukan produk-produk apa yang terbentuk. ( Keenan 372: 2001)

c.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Dekantasi
(1)Gelas kimia 100 ml
(2) Gelas kimia 600 ml
(3) Pengaduk
(4) Tabung reaksi
b)   Filtrasi
(1) Gelas kimia 100 ml
(2) Gelas kimia 600 ml
(3) Pengaduk
(4) Corong
(5) Kertas saring
c)    Kristalisasi
(1) Gelas kimia 100 ml
(2) Gelas kimia 600 ml
(3) Pengaduk
(4) Corong
(5) Kertas saring
(6) Kaki tiga
(7) Pemanas
(8) Korek api
2)   Bahan
a)    Dekantasi
(1)Kapur
(2)Air
b)   Filtrasi
(1)Air
(2)Garam
c)    Kristalisasi
(1)Air
(2)Garam 
d.    Cara Kerja
1)   Dekantasi
a)    Menyiapkan alat dan bahan;
b)   Memasukkan tiga sendok kapur ke dalam gelas kimia 100 ml 
c)    Memasukkan air ke dalam gelas kimia yang telah berisi kapur sebanyak 25 ml
d)   Mengaduk campuran air dan kapur
e)    Menghitung waktu yang sampai campuran tersebut mengendap
f)     Memisahkan campuran tersebut melalui proses dekantasi yaitu penuangan secara langsung
2)   Filtrasi
a)    Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum;
b)   Memasukkan garam ke dalam gelas kimia 100 ml
c)    Memasukkan sedikit air ke dalam gelas kimia yang telah berisi garam
d)   Mengaduk campuran air dan garam
e)    Memisahkan komponen dalam campuran melalui proses filtrasi yaitu menyaring larutan tersebut dengan menggunakan corong dan kertas saring
f)     Mengamati hasil perbandingan filtrat dan sentrat


3)   Kristalisasi
a)    Menyiapkan alat dan bahan
b)   Memasukkan garam ke dalam gelas kimia 100 ml
c)    Memasukkan air ke dalam gelas kimia yang telah berisi garam
d)   Mengaduk campuran air dan garam
e)    Melihat bagian penyaringan di atas
f)     Memanaskan filtrate dengan pemanas
g)   Mengamati proses pengkristalan
h)   Menghitung waktu yang dibutuhkan sampai larutan tersebut mengkristal
i)     Membandingkan garam sesudah dan sebelum proses
e.    Hasil Pengamatan
1)   Gambar Pemisahan
a)    Dekantasi







b)   Filtrasi






c)    Kristalisasi





Keterangan:
1.      Gelas kimia
2.      Air
3.      Kapur yang mengendap

2)   Deskripsi atau Analisa Data
a)    Diskripsi
Dari hasil pengamatan dalam proses dekantasi dan filtrasi air yang yang dicampurkan dengan kapur dipisahkan dan diletakkan dalam tabung reaksi yang masih kosong,setelah itu hasil pemisahan antar air dan kapur diletakkan,dan dilihat perbedaan yang terjadi sehingga kita dapat mengetahui proses dari pada dekantasi dan filtrasi yang telah dihasilkan  dalam percobaan
Garam kotor yang telah disaring dimasukkan dalam gelas kimia,hasil saringan tersebut kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan menggunakan kaki tiga sebagi pemanas.Lama kelamaan air garam yang dipanaskan  kembali menjadi garam dengan keadaan yang lebih bersih dan murni dan rasanya lebih asin dari garam sebelumnya.
b)   Table

Bentuk
Warna

Sebelum pemurnian
Kotor

Keruh

Keras

Sebelum pemurnian
Bersih

Putih
Halus

f.     Pembahasan
Proses filtrasi yaitu memisahkan antara campuran air dengan kapur yang diletakkan dalam tabung reaksi (dekantasi)
Dalam kotor hasil saringan atau filtrat ketika dipanaskan akan berubah dari larutan garam kotor menjadi garam murni,disebabkan karena larutan tersebut apabila dipanaskan aka menguap. Larutan garam kotor dan airyang telah disaring,airnya menguap.asedangkan kotorannya tetap dalam gelas kimia tetapi garamnya tetap mrenjadi garam murni.
Garam dapur yang telah dilarutkan dalam air setelah disaring kemudian dipanaskan sampai mendidih filtrate hasil saringan akan digunakan untuk peroses filtralisasi selanjutnya. Larutan pad asaat sebelumnya dipanaskan masih dalam keadaan keruh
             Dalam bentuk cair sedangkan pada saat larutan sudah dilarutkan air dan faram kotor telah memisah dan menghasilkan garam murni karena air menguap kedalam lingkungan
g.    Kesimpulan
Dari hasil pratikum kami dapat menyimpulkan bahwa air dan kapur yang terpisah yang dimasukkan kedalam gelas kimia terdapat perbedaan begitu juga garam dapur setelah dipisahkan atau disaring airnya yang telah dikotorkan tetap menjadi garam murni kembali setelah dipanaskan sehingga kita dapat mengetahui hasil akhir dari pratikum bahwa garam tersebut menjadi lebih murni dan lebih asin dari sebelumnya


2.    Destilasi Sederhana
a.    Pelaksanaan
1)   Hati/Tanggal        : Minggu, 22 Mei 2011
2)   Waktu                   : 15.00 - Selesai
3)   Tempat                 : R. VI Kampus II IAIN Mataram
4)   Tujuan                  : Untuk mengetahui proses pemisahan larutan (air dengan
 alkohol)
b.    Landasan Teori 




c.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Susun 1 set alat destilasi
b)   Labu destil
c)    Penangas
d)   Teemometer
e)    Pendingin/kondensor leibig
f)     Konektor/klem
g)   Statif
h)   Penampung
2)   Bahan
a)    Air
b)   Alcohol  
d.    Cara Kerja
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Menyusun 1 set destilasi
3)   Memasukkan zat sampel (alkohol) pada labu destilasi (mengisi alcohol dalam dalam labu paling banyak bagian labu) kemudian memasukkan batu didih.
4)   Mengisi kaleng penagas dengan zat penagas mula-mula dengan api kecil. Amati thermometer apabila ada cairan yang keluar sebelum mencapai titik didihnya, pisahkan cairan tersebut, tahan supaya suhu tersebut konstan dan tabung destilasi yang dihasilkan.
5)   Menghentikan destilasi pada saat sampel hamper habis (jangan sampai kering)
6)   Memindahkan penagas. Tentukan massa jenis zat yang diperoleh da  bandingkan dengan dengan harga aberat jenis standar.  
e.    Hasil Pengamatan
1)      Gambar
4
 
1
 
10
 
9
 
8
 
7
 
6
 
5
 
tuak
 





2)      Deskripsi
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui proses/cara untuk memurnikan air yang telah bercampur dengan alcohol. Disini air memiliki titik didih C dan alcohol memiliki titik didih C. Untuk dapat memisahakan alcohol dengan air perlu diperhatikan temperature alkoholnya, karena alcohol memiliki titik ddidih yang lebih tinggi/cepat dari air. Sehingga, yang lebih dulu mengalami penguapan adalah alcohol.


f.     Pembahasan

g.    Kesimpulan
Dari percobaan yang tekah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa destilasi sederhana merupakan salah satu cara pemurnian zat cair yang telah tercemar oleh zat padat/zat cair lain yang memiliki perbedaan titik didih cukup besar. Sehingga, zat pencemar/pengotor akan tertinggal sebagai residu (sisa). Dalam destilasi sederhana ini perlu memperhatikan temperaturnya. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran cairan-cairan yaitu antara air dengan alcohol dan temperature dari zat cair yang perlu diperhatikan adalah zat cair yang memiliki titik didih Paling cepat yaitu titik didih alcohol C.
3.    Destilasi Uap
a.    Pelaksanaan
1)   Hari,Tanggal        : Minggu, 22 Mei 2011
2)   Waktu                   : 14.00 – 15.00
3)   Tempat                 : R.II. Kampus II IAIN Mataram
4)   Tujuan                  : Untuk mengetahui proses pemisahan larutan (air dengan
  minyak) dari daun kayu putih
b.    Landasan Teori
Proses yang terjadi pada destilasi adalah perubahan pase cair menjadi fase uap atau gas dengan pendidihan, kemudian gas tersebut mengembun akibat pendinginan. Tahap terpenting pada destilasi adalah pendidihan dan kondensasi pengembunan.
Dasar penting dalam destilasi adalah tekanan uap yaitu suatu sifat yang tergantung pada suhu. Kenaikan suhu selalu menyebabkan tekanan uap bertambah besar. Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan luar / atmosfer. Pada suhu ini molekul zat cair mempunyai energi yang cukup untuk berubah menjadi fase uap tidak hanya pada permukaan zat cair tetapi di seluruh bagian zat cair sehingga terjadi gelembung dan keadaaan ini diebut mendidih. Suhu pada  saat tekanan uap zat cair sama dengan atmosfer disebut titik normal. (Drs. Husen junaidi:2000:109)



c.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Set alat destilasi uap
b)   Pemanas
c)    Corong pisah
d)   Statif
e)    Labu destilasi
f)     Batu didih

2)   Bahan
a)    Aquades
b)   Daun kayu putih atau bunga
d.    Cara Kerja
1)      Meniapkan alat dan bahan
2)      Menyeting alat destilasi biasa seperti pada gambar
3)      Memasukkan aiar pada dasr alat destilasi
4)      Memasukkan sampel pada tempat pembangkit uap
5)      Mengalirkan air dingin pada kondensor
6)      Menampung destilat dan hentikan paada waktu tertentu
7)      Memisahkan air dengan minyak menggunakan corong pisah
e.    Hasil Pengamatan
1)   Gambar


 










2)   Deskripsi
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa dalam memisahkan air dengan minyak dari kayu putih membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang pertama untuk dapat menghasilkan uap minyak kayu putih harus memanaskan air dan daun kayu putih yang sudah dimasukkan ke dalam labu destil. Setelah panas uap dari air  dan daun kayu putih tersebut akan melewati tabung destilasi dan dihasilkan berupa cairan minyak kayu putih yang masih bercampur dengan air. Untuk dapat menghasilkan minyak kayu putih murni, harus memisahkan cairan tersebut terlebih dahulu dengan corong pemisah. Namun, disini terdapat kesulitan dalam pemisahannya karena warna air dan minyak kayu putih sama-sama berwarna bening.
f.     Pembahasan

g.    Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa destilasi uap adalah salah satu cara pemisahan/pemurnian zat cair dengan minyak. Dalam destilasi uap ini tidak memperhatikan temperaturnya seperti dalam destilasi sederhana. Yang dipisahakan disini adalah air yang telah bercampur dengan minyak dan untuk mendapatkan air atau minyak murni denagn menggunakan corong pemisah    


C.  ACARA III : LARUTAN DAN KELARUTAN
1.                  Pelaksanaan
a.    Hari/Tanggal             : Minggu, 24 April 2011
b.    Waktu                       : 08.50 – 09.05
c.    Tempat                      : R. II. VI Kampus II IAIN Mataram
d.    Tujuan                      :Untuk mengetahui proses terbentuknya endapan pada
 campuran larutan antara K(SbO) C4H4O6 dengan BaCl2
2.    Landasan Teori

3.    Alat dan Bahan
a.    Alat
1)   Gelas Kimia
2)   Bola Hisap
3)   Stopwatch
4)   Pipet Ukur
5)   tabung reaksi
b.    Bahan
1)      BaCl2
2)   K(SbO)C4H4O6
3)   Air
4.    Cara Kerja
a.    Menyiapkan alat dan bahan
b.    Memasukkan 18 ml larutan K(SbO) C4H4O6 ke dalam tabung reaksi
c.    Menambahkan 4 ml larutan BaCl ke dalam larutan K(SbO) C4H4O6 dan tanpa diaduk
d.    Mengamati proses terbentuknya endapan pada campuran larutan tersebut dan menghitung waktu yang diperlukan untuk terbentuknya endapan




5.    Hasil Pengamatan
a.      

 
Gambar







Keterangan:
1.    Gelas kimia
2.    Sisa BaCl2 yang bereaksi
3.    Hasil endapan putih
b.    Deskripsi
Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan kami dapat mendiskripsikan bahwa, dari gambar di atas tedapat endapan yang di hasilkan dari campuran antara larutan antimony potassium tatrat dan barium klorida, 5 menit setelah ke dua larutan tercampur maka akan terbentuk endapan yang berwarna putih, tanpa di aduk atau di gerakkan.
6.    Pembahasan
Pada awal demontrasi larutan mengendap sedikit demi sedikit, endapan putih terbentuk pada dasar gelas kimia dan endapan terpisah pada larutannya. Larutan tersebut tidak di aduk karna endapannya cepat terjadi, semakin lama waktu yang di gunakan 15 menit maka semakin banyak endapan yang terbentuk dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
2 K (Sbo)C4H4O6 (aq)+ BaCl2 (aq) →2 Ba ((Sbo)C4H4O6)2 + 2KCl (aq)
Endapan terbentuk karna adanya larutan BaCl2 yang di tambahkan larutan K(Sbo)C4H4O6 yang telah mencapai kelarutan maksimum. Yang menyebabkan terbentuknya endapan ketika ke dua larutan tersebut di campur adalah
7.    Kesimpulan
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa endapan putih terbentuk dari campuran antara  K(SbO)C4H4O6 dengan larutan BaCl2. Proses terbentuknya endapan tersebut terjadi karena larutan tersebut termasuk alam tipe larutan lewat jenuh dan konsentrasi K(SbO)C4H4O6 lebih tinggi dari larutan BaCl2, sehingga menyebabkan terjadinya endapan.  

D.  ACARA IV : ASAM BASA
1.    Pelaksanaan
a.    Hari/Tanggal : Minggu, 24 April 2011
b.    Waktu           : 9.00-selesai
c.    Tempat          : R. II. IV. Kampus II IAIN Mataram
d.    Tujuan          :Untuk mengetahui apakah ekstrak tumbuhan dapat dijadikan
sebagai indicator asam basa dan menentukan PH larutan baku setelah diteteskan ekstrak tumbuhan.
2.    Landasan Teori
Reaksi asam basa adalah reaksi yang reversible yang dengan cepat mencapai kesetimbangan. Keadaaan kesetimbangan  ditentukan oleh kesemaan dan kebebasan relative preaktif, jika suatu asam kehilanagn proton maka yang tertinggi adalah suatu basa. Suatu zat akan bersifat asam jika terdapat akseptor proton sedangkan sifat basa menurut adanya donor proton . pelarut merupakan akseptor atau donor proton sehingga proses pelarut merupakan reaksi asam basa. Dalam reaksi asam basa, sebuah proton dipisahkan dari asam ke basa. Semua reaksi asam basa, asam yang lebih kuat memberikan proton kepada bara yang membuat dan menghasilkan asam dan yang lebih lemah.Asam kuat adalah asam yang hamper seluruhnya terionisasi dalam air, suatu larutan asam kuat dapat diencerkan dan dipekatkan sedangkan asam lemah adalah asam yang sedikit terionisasi dalam air, asam ini adalah asam yang lebih lemah dari ion hydrogen (RALPA). (fessenden, 2000 : 21-23)
Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:
a.       Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.
b.      Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya asam kuat.
c.       Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
d.      Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.

Tetapan asam adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi HA dengan air: Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar (yaitu, kesetimbangan reaksi berada jauh di kanan, terdapat banyak H3O+; hampir seluruh asam terurai). Misalnya, nilai Ka untuk asam klorida (HCl) adalah 107.Asam lemah mempunyai nilai Ka yang kecil (yaitu, sejumlah cukup banyak HA dan A- terdapat bersama-sama dalam larutan; sejumlah kecil H3O+ ada dalam larutan; asam hanya terurai sebagian). Misalnya, nilai Ka untuk asam asetat adalah 1,8 × 10-5.Asam kuat mencakup asam halida - HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asam fluorida, HF, relatif lemah.) Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atom pusat ber-bilangan oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat; mencakup HNO3, H2SO4, dan HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.(Surues Bala 2003:67-73)
Asam arrhenius adalah zat yang melarutkan kedalam air untuk memberikan ion-ion H+, dan basa arrhernius adalah zat yang melarutkan ke dalam air untuk memberikan ion-ion OH-.
                 Contoh
Asam
Basa
Hidrogen klorida (HCl)
Natrium hidroksida (NaOH)
Hidrogen nitrat (HNO3
Kalsium hidroksida (KOH)
Hidrogen sulfat (H2SO4)
Kalsium hidroksida Ca(OH)2
Asam asetat (HC2H3O2)
Amonia, NH3)
Dalam tahun 1887 Svante Arrhenius mempostulatkan bahwa bila molekul elektrolit dilarutkan dalam air, akan terbentuk ion-ion negative dan positif. Menjelang akhir abad XIX definisi asam dan basa dinyatakan dalam teori pengionan Arrhenius. Asam Arrhenius adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion H+, dan basa Arrhenius adalah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion OH-. ( Keenan, 408 : 2001 )
Air murni tidak mempunyai rasa, bau, dan warna. Bila mengandung zat tertentu, air dapat terasa asam, pahit, asin, dan sebagainya. Air yang mengandung zat lain dapat pula menjadi berwarna. Kita ketahui bahwa cairan yang berasa asam di sebut larutan asam, yang terasa asin di sebut larutan garam, sedangkan yang terasa licin dan pahit di sebut larutan basa. Diingatkan, jangan mencicipi larutan untuk mengetahui rasanya, sebab berbahaya. Cara yang baik adalah mencelupkan kertas lakmus, karena lakmus dalam larutan asam berwarna merah, dan dalam basa berwarna biru. ( Syukri, 387 : 2000 ).
Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekivalen antara 4-10. ( Khopkar, 38 : 2003 ).
Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu ruang ( trayek ) pH tertentu. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indikator dapat berupa asam  atau basa, larut, stabil, dan  menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. ( Khopkar, 44 : 2003 ).
Asam dan basa didefinisikan oleh ahli  kimia berabad-abad yang lalu dalam sifat-sifat larutan air mereka. Dalam pengertian ini suatu zat yang larutan airnya berasa asam, memerahkan lakmus biru, bereaksi dengan logam aktif untuk membentuk hydrogen, dan menetralkan basa. Dengan mengikuti pola yang serupa, suatu basa didefinisikan sebagai suatu zat yang larutan airnya berasa pahit, membirukan lakmus merah, terasa licin sabun, dan menetralkan asam.( Keenan, 408 : 2001 ).
Mungkin tidak ada dua kelompok senyawa yang lebih penting dalam kimia dari pada asam dan basa. Semua asam memiliki beberapa sifat umum seperti: memiliki rasa masam, dan semuanya dapat bereaksi dengan sebagian besar logam membentuk gas hydrogen (H2), dan dengan soda kue membentuk karbon dioksida (CO2). Semua asam mengubah kertas lakmus biru menjadi merah, dan larutannya mengalirkan listrik karena asam membentuk ion ketika larut dalam air. Sebaliknya semua basa juga memiliki beberapa sifat umum, seperti: memiliki rasa pahit, larutannya terasa licin seperti air sabun, dan mengubah kertas lakmus merah menjadi biru (berlawanan dengan asam). Larutan-larutan basa juga mengalirkan listrik, karena membentuk ion dalam air. Semua asam serupa karena menghasilkan ion hydrogen dalam air. Sebaliknya, semua basa juga membentuk ion hidroksida dalam air. Ion-ion tersebut menentukan sifat asam dan basa. ( Harold, 94: 2004).

3.    Alat dan Bahan
a)    Alat
1)   Tabung reaksi
2)   Pipet tetes
3)   Silet
4)   Gelas plastic
5)   Gelas arloji
6)   Indicator universal
7)   Pengaduk
8)   Bola penghisap
b)   Bahan
1)        Kunyit
2)        Bunga sepatu
3)        HCl atau 0,05 M
4)        0,1 M CH3COOH
5)        2% asam borat
6)        5% klarutan NaCl
7)        5% larutan NaHCO2­
8)        5% larutan Na2CO3
9)        5% Na2CO3
10)    0,01 M NaOH
11)    0,1 M NaOH
4.    Cara Kerja
a.    Indicator
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Memotong kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam bejana kimia
3)   Menimbang indicator sebanyak 2 gr
4)   Menambahkan 5-10 ml alcohol atau campuran alcohol ke dalam indicator (bunga dan kunyit)
5)   Mengaduk sedemikian rupa sehingga zat-zat warnanya tereaksi sebanyak mungkin
b.    Skala PH dan penentuan trayek perubahan warna
1)   Menyiapkan sederetan larutan yang dipakai sebagai deret baku skala PH
2)   Menaruh masing-masing dua tetes
c.    Pemakaian ekstrak tumbuhan sebagai indicator
1)   Menyiapkan larutan NaOH dengan konsentrasi 0,1 M
2)   Meneteskan 5-30 tetes larutan asam ke dalam tabung reaksi
3)   Menambahkan 2 tetes ekstrak tumbuhan
4)   Meneteskan basa ke dalamnya tetes demi tetes (tiltrasi) hingg warna larutan berubah
5)   Menerangkan yang terjadi
5.    Hasil Pengamatan
a.    Gambar








b.    Analisa data
Larutan Baku

Warna awal Larutan
Warna Indicator
Perubahan warna
Na2Co3 5%
Asam borat 2%
NaOH 0,01 M
HCl 0,05 M
NaCl 5%
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening

Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Abu-abu
Ungu muda
Hijau pekat
Merah muda
Kelabu
c.    Tabel
No
Larutan
Nilai ph kunyit dan nilai ph bunga sepatiu
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
1
HCl atau 0.005 m
1
5
1
3
2
0.1 m CH3COOH
3
4
3
4
3
2% asam borat
5
6
5
6
4
5% larutan NaCl
7
7
7
7
5
5% larutan NaHCO3
8,3
11
8,3
10
6
5% Na2CO3
10,6
11
10,6
12
7
0.01 m NaOH
12
13
12
14
d.    Deskripsi
Dari gambar di atas kita dapat mengetahui perubahan warna yang terjadi yaitu dengan menggunakan ekstrak bunga spatu dan kunyit sebagai indicator. Sedangkan PH nya menggunakan larutan NaCl, HCl, CH3COOH, NaHCO3, NaCO3 dan NaOh dengan nilai PH nya yang telah di tentukan.
Setelah indicator masing-masing dari skala PH di campurkan terjadi perubahan warna, karna terjadi perubahan warna sehingga terbukti ekstrak bunga sepatu dan kunyit dapat di jadikan indicator untuk menentukan asam atau basa larutan.
6.    Pembahasan
Dari hasil pengamatan di dapatkan bahwa ekstrak bunga sepatu dan kunyit dapat di jadikan sebagai indicator untuk menentukan asam dan basa suatu larutan dari semua larutan menjadi skala PH. Warna awal bunga spatu adalah bening emas, warna awal ekstrak bunga sepatu adalah merahh. Sementara warna awal kunyit kuning kemerah-merahan dan warna ekstrak kunyit adalah kuning kembali seperti warna awal .
Dari campuran masing-masing skala PH dengan indicator membuktikan bahwa ekstrak bunga sepatu dan kunyit dapat di jadikan indicator untuk mengetahui apakah masing-masing larutan asam atau basa, di mana yang di maksud dengan asam  adalh sebagai zat yang larutannya dalam air menghasilkan ion H+ karna dapat memberikan zat proton sedangkan basa itu sendiri adalah zat yang larutannya dalam air menghasilkan OH karna dapat menerima proton, sehingga makin mudah asam melepaskan proton maka makin kuat asamnya dan semakin mudah basa menerima suatu proton maka makin kuat pula basa yang bersangkutan.
7.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat di simpulkan bahwa perubahan warna terjadi karna adanya campuran dari ekstrak bunga sepatu dan kunyit sebagai indicator NaCl, CH3COOH, NaHCO3, Na2CO3 dan NaOHsehingga kita dapat mengetahui  bunga sepatu dan kunyit dapat di jadikan indicator asam dan basa   dan PH setiap larutan.





E.  ACARA V : PERUBAHAN ENERGI REAKSI
1.    Pelaksanaan
a.    Hari/Tanggal : Minggu, 24 April 2011
b.    Waktu           : 09.20-0932
c.    Tempat          : R. III. Kampus II IAIN Mataram
d.    Tujuan          : Untuk membuktikan terjadinya reaksi endoterem pada
  campuran antara NH4NO3 dengan aquades dan membuktikan
  reaksi eksotermik pada campuran CaCl dengan aquades.
  Serta mengetahui penurunan dan  peningkatan suhu pada kedua
  reaksi tersebut.   
2.    Landasan Teori
Konsep Oksidasi Reduksi
Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen Dalam hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah kehilangan oksigen. Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi: Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksi REDOKS.
Zat pengoksidasi dan zat pereduksi
Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator. Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon monooksida. Jadi dapat disimpulkan
 oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain.
Reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain
Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen
Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan.
Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.
Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen. Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)
1)      Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada zat lain, atau memindahkan hidrogen dari zat lain.
2)      Zat pereduksi (reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi hidrogen kepada zat lain.
Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron
Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron. Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:
Contoh sederhana Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:
Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton). Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II). Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi (reduktor). Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator). Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer elektron.
Bila perubahan terjadi pada sebuah sistem maka dikatakan bahwa sistem bergerak dari keadaan satu ke keadaan yang lain. Bila sistem diisolasi dari lingkungan sehingga tak ada panas yang dapat mengalir maka perubahan yang terjadi di dalam sistem adalah perubahan adiabatik, maka suhu dari sistem akan menggeser, bila reaksinya eksotermik akan naik sedangkan reaksinya endotermik akan turun. Bila sistem tak diisolasi dari lingkungannya, maka bila terjadi reaksi, suhu dari sistem dapat dibuat tetap. Perubahan yang terjadi pada temperature tetap dinamakan perubahan isotermik. Telah dikatakan, bila terjadi reaksi eksotermik atau endotermik maka pada zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi perubahan energi potensial.[1]
Termodinamika merupakan kajian tentang energi, secara prinsip energi panas, yang menyertai perubahan fisik atau kimia. Beberapa reaksi kimia melepaskan energi; dan disebut reaksi eksotermis, dan memiliki perubahan entalpi negative. Reaksi lainnya menyerap energi panas dan disebut reaksi endotermis.[2]
Proses eksotermik memindahkan kalor dari sistem ke lingkungan dan menghasilkan peningkatan entropi lingkungan, sedangkan proses endotermik menyerap kalor dari lingkungan dan dengan demikian menurunkan entropi lingkungan. ( Raymond, 44: 2004)
3.    Alat dan Bahan
a.    Reaksi Endotermik, Ammonium Nitrat
1)   Alat
a)    Gelas kimia 100 ml
b)   Thermometer
2)   Bahan
a)    NH4NO3 (urea)
b)   Air
b.    Reaksi Eksotermik, Kalsium Klorida
1)   Alat
a)    Gelas kimia 100 ml
b)   Temperature
2)   Bahan
a)    CaCl2
b)   Air
4.    Cara kerja
a)    Reaksi Endotermik, Amonium Nitrat
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Memasukkan sekitar 100 ml air ke dalam beaker besar dan mencatat temperaturnya
3)   Memasukkan dengan cepat 10 g ammonium nitrat ke dalam air
4)   Mengukur suhu atau terperatur NH4NO3 di tambah air
5)   Mencatat hasil pengamatan
b)   Reaksi Eksotermik, Kalsium Klorida
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Memasukkan secara cepat kalsium klorida sebanyak 3 g ke dalam gelas kimia yang berisi 30 ml air
3)   Mengukur suhu atau temperature CaCl2 ditambah air
4)   Mencatat hasil pengamatan




5.    Hasil pengamatan
a)    Gambar
1)   Reaksi Endotermik

Keterangan:
1.      Temperature
2.      Gelas kimia 100 ml
3.      Aquades 100 ml
4.      NH4NO3 10 gr
2)   Reaksi Eksotermik

Keterangan:
1.      Thermometer
2.      Gelas kimia 100 ml
3.      Aquades 30 ml
4.      CaCl2 3 gr
b)   Deskripsi
Pada percobaan yang dilakukan. Pada reaksi endotermik, kami memasukkan aquades ke dalam gelas kimia ukuran 100 ml dan mengukur temperaturenya yaitu 29C. Kemudian memasukkan 10 g ammonium nitrat ke dalam gelas kimia yang berisi air tersebut dan mengukur temperaturnya yaitu berubah menjadi 24C. Sedangkan pada eksotermik kami juga memasukkan aquades ke dalam gelas kimia ukuran 100 ml sebanyak 30 ml dan mengukur teperaturnya yairu 29C. Kemudian memasukkan 3 g kalsium klorida ke dalam gelas kimia yang berisi air tersebut dan mengukur temperaturnya yaitu berubah menjadi 34C.
6.    Pembahasan
Pada reaksi endotermik, temperature awal adalah 29C setelah ditambah ammonium nitrat temperaturnya menurun menjadi 24C. Hal ini disebabkan oleh reaksi endotermik dimana reaksi endotermik itu adalah reaksi yang menyerap atau membutuhkan kalor atau panas. Reaksi antara aquades dan ammonium nitrat sebagai berikut:
Panas + NH4NO3(s) + H2O                       NH(aq) + NO(aq)­
Pada reaksi eksotermik temperature adalah 29C setelah ditambah kalsium klorida temperaturnya meningkat menjadi 24C. Hal ini disebabkan oleh reaksi eksotermik dimana reaksi eksotermiknini adalah reaksi yang melepaskan kalor atau panas. Reaksi antara aquades dengan kalsium klorida sebagai berikut.
CaCl2(s) + H2­O                  Ca + 2 Cl + panas
Sedangkan panas larutan adalah jumlah kalori suatu larutan dalam 100 ml air.

7.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pada suatu larutan akan berkurang atau bertambah temperaturnya apabila ditambahkan dengan larutan lain seperti NH4NO3 dan CaCl2 dan terjadi reaksi edotermik dan reaksi eksotermik dalam reaksi tersebut dimana reaksi endotermik adalah reaksi yan g menyerap kalor atau panas dan reaksi eksotermik adalah reaksi yang melepaskan kalor atu panas.



F.   ACARA VI: REAKSI OKSIDASI REDUKSI
1.    The Mercury Beating Heart
a)    Pelaksanaan
1)   Hari/Tanggal        : Minggu, 22 Mey 2011
2)   Waktu                   : 09.00 – 09.30
3)   Tempat                 : R.  B.2  Kampus II IAIN Mataram
4)   Tujuan                  : Mengetahui proses terjadinya denyutan/ getaran pada
  Mercury beating heart.                                          
b)   Landasan Teori
Pengertian oksidasi dan reduksi disini lebih melihat dari segi transfer oksigen, hidrogen dan elektron. Disini akan juga dijelaskan mengenai zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor).
1) Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen
Dalam hal transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah kehilangan oksigen.
Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:
Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksi REDOKS.
Zat pengoksidasi dan zat pereduksi
Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator.
Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon monooksida.
Jadi dapat disimpulkan:
 oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain,
ü
 reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain
ü
2) Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen
Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan.

Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.
Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen.
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
CH3CH2OH CH3CHO

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
CH3CHO CH3CH2OH
Zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)
 Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada
Ø zat lain, atau memindahkan hidrogen dari zat lain.
 Zat pereduksi (reduktor)
Ø memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi hidrogen kepada zat lain.
3) Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron
Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron.

Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:
Contoh sederhana
Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:
CuO+Mg CU+Mg
Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).
Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II).
Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi (reduktor).
Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari magnesium untuk menghasilkan ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi sebagai zat pengoksidasi (oksidator). Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer elektron.
Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam transfer elektron:
 Zat
ü pengoksidasi mengoksidasi zat lain.
 Oksidasi berarti kehilangan elektron
ü (OIL RIG).
 Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat
ü lain.
 Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron
ü
Atau dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Suatu zat pengoksidasi mengoksidasi zat
ü lain.
 Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi.
ü
 Reduksi berarti
ü mendapat elektron.
c)    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Gelas kimia 150 ml 2 buah
b)   Gelas arlogi
c)    Jarum/ paku
d)   Pipet tetes
e)    Pipet ukur/bola penghisap
2)   Bahan
a)    Mercury
b)   H2SO4
c)    K2Cr2O7
d)   Aquadest
d)   Langkah kerja
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Menaruh gelas arlogi di atas meja
3)   Memasukkan mercury murni dan bersihkan ke dalam gelas arlogi sampai membentuk genangan. Tidak boleh lebih dari 3-4 inci dari diameter.
4)   Menambahkan larutan H2SO4 sampai permukaan genangan mercury tepat tertutup.
5)   Meneteskan 1 ml larutan potosium dikarbonat pada puncak mercury.
6)   Membersihkan jarum di dalam Gelas arlogi kemudian menyentuh sedikit saja genangan mercury. Dengan kuat akan mengatur/mencari jarum pada posisi mendempul.
7)   Mercury akan segera untuk mulai bergerak atau berdunyut
8)   Untuk mumperoleh denyutan yang lebih kuat, secara perlahan tambahkan H2SO4 pekat dengan tetes demi tetes.
e)    Hasil Pengamatan
1)      Gambar

Keterangan:
1.    Jarum
2.    Gelas arloji
3.    Merkuri murni
4.    Potassium dikromat

2)      Table
Bahan
Reaksi
Keterangan
Merjuri + H2SO4 +Pottasium Dikromat
Berdenyut biasa
Disentuh dengan jarum
Berdenyut lebih keras
Ditambah dengan H2SO4 pekat dan disentuh dengan jarum
3)      Deskripsi
Merkuri yang diletakkan pada gelas arloji, ditambahkan dengan fotasium dikromat serta meletakkan jarum pada permukaan merkuri akan mengalami denyutan pada merkuri tersebut. Denyutan tersebut persis seperti denyutan jantung tapi terlihat biasa. Tetapi, ketika merkuri tersebut ditambahkan dengan H2SO4 pekat maka merkuri tersebut mengalami denyutan yang lebih kuat/keras. Jarum yang diletakkan pada permukaan merkuri tersebut berfungsi supaya merkuri mendapatkan electron.
Sejumlah kecil merkuri yang dicampur larutan potassium dikromat serta larutan H2SO4 tidak akan bercampur dengan kedua larutan tersebut karena merkuri memiliki muatan listrik (electron) yang besar. Genangan merkuri tersebut membentuk bulatan dan terlihat padat. Genangan merkuri tersebut apabila disentuh dengan jarum akan terjadi denyutan karena melalui jarum tersebut tetesan merkuri akan mendapatkan electron. Apabila merkuri ditambahkan dengan H2SO4 pekat. Maka denyutan pada merkuri akan lebih kuat/keras. Ketika tetesan merkuri ditempatkan pada gelas arloji kemudian disentuh atau didekatkan dengan jarum maka merkuri tersebut akan mendapatkan electron dengan reaksi sebagai berikut:
f)     Pembahasan
Pada pengamatan ini, kita menggunakan mercury murni  H2SO4  dan Cr2 O7-2  .  pada langkah pertama kita mencamurkan mercury murni dengan K2 Cr2 O7-2 hingga arloji membentuk genangan yang mercurynya tertutup oleh K2 Cr2 O7 . genangan mercuri membentuk bulatan-bulatan sebab muatan listriknya besar pada permukaannya.
Mercuri yang dimasukkan ke dalam gelas arloji itu harus membentuk gengan, dan genangan mercuri membentukbulatan, sebab muatan listriknya besar pada permukaan. Cr2 O7-2  berperan sebagai agen pengiksidasi, electron itu berpindah dari Hg  dan tetesan hg menjadi rata / turun. Ketika tetesan Hg turun sentuh dengan jarum dan akan mendapatkan  electron.
Dari pengamatan tersebut, diperoleh bahwa pencampuran antara mercury murni akan menghasilkan sebuah denyutan sepeti denyutan jantung pada manusia dengan meletakkan ujung jarum tepat pada pinggiran zat mercury  yang tergenang oleh K2 Cr2 O7 . denyutan pada percobaan tersebut akan semakin kencang dengan ditambahkannya larutan H2SO4   pekat pada pencampuran mercury murni dengan K2 Cr2 O7-2 .

g)   Kesimpulan
Dari percobaan yang tellah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa merkuri akan mengalami deyutan seperti ddenyut jantung karena ditambahkan potassium dikromat dan diletakkan jarum pada permukaan merkuri dan denyutan akan lebih keras jika ditambahkan dengan H2SO4 dan terjadi denyutan karena adanya tambahan electron dari jarum





2.    Dekomposisi Amonium Dikromat (Reaksi Vulkanik)
a.    Pelaksanaan
1)   Hari/Tanggal        : Minggu, 24 April 2011
2)   Waktu                   : 11.45 – 12.00
3)   Tempat                 : R. II. Kampus II IAIN Mataram
4)   Tujuan                  :Untuk mengamati terjadinya reaksi vulkanik
b.    Landasan Teori
Gas merupakan satu dari tiga wujud zat dan walaupun wujud ini merupakan bagian tak terpisahkan dari studi kimia, bab ini terutama hanya akan membahasa hubungan antara volume, temperatur dan tekanan baik dalam gas ideal maupun dalam gas nyata, dan teori kinetik molekular gas, dan tidak secara langsung kimia. Bahasan utamanya terutama tentang perubahan fisika, dan reaksi kimianya tidak didisuksikan. Namun, sifat fisik gas bergantung pada struktur molekul gasnya dan sifat kimia gas juga bergantung pada strukturnya. Perilaku gas yang ada sebagai molekul tunggal adalah contoh yang baik kebergantungan sifat makroskopik pada struktur mikroskopik.
Sifat-sifat gas dapat dirangkumkan sebagai berikut.
1)      Gas bersifat transparan.
2)      Gas terdistribusi merata dalam ruang apapun bentuk ruangnya.
3)      Gas dalam ruang akan memberikan tekanan ke dinding.
4)      Volume sejumlah gas sama dengan volume wadahnya. Bila gas tidak diwadahi, volume gas akan menjadi tak hingga besarnya, dan tekanannya akan menjadi tak hingga kecilnya.
5)      Gas berdifusi ke segala arah tidak peduli ada atau tidak tekanan luar.
6)      Bila dua atau lebih gas bercampur, gas-gas itu akan terdistribusi merata.
7)      Gas dapat ditekan dengan tekanan luar. Bila tekanan luar dikurangi, gas akan mengembang.
8)      Bila dipanaskan gas akan mengembang, bila didinginkan akan mengkerut.
Dari berbagai sifat di atas, yang paling penting adalah tekanan gas. Misalkan suatu cairan memenuhi wadah. Bila cairan didinginkan dan volumenya berkurang, cairan itu tidak akan memenuhi wadah lagi. Namun, gas selalu akan memenuhi ruang tidak peduli berapapun suhunya. Yang akan berubah adalah tekanannya.
k8tiumb@gmail.com00:530 komentar
Materi Kuliah 2
Polimer adalah senyawa molekul yang cirri-cirinya adalah memiliki massa molar yang tinggi, mulai dari ribuan hingga jutaan gram, dan terbuat daribanyak unit berulang. Sifat-sifat fisik dari apa yang dikenal juga sebagai makromolekul ini berbeda jauh dari sifat-sifat molekul biasa yang kecil, sehingga diperlukanteknik khusus untuk mempelajarinya. (Raymond,290: 2004)
Senyawa-senyawa yang tersusun dari molekul sangat besar yang terbentuk oleh penggabungan berulang dari banyak molekul kecil disebut polimer. Molekul yang kecil yang disebut monomer, dapat terdiri dari satu jenis maupun beberapa jenis.
Polimer yang satuan berulangnya terjadi dari ikatan yang terbentuk dengan eliminasi molekul sederhana seperti HOH, HCl, dan NH3, disebut polimer kondensasi.
Macam kedua polimer disebut polimer adisi, suatu polimer yang satuan berulangnya dihubungkan oleh ikatan-ikatan yang aslinya dikatakan dengan ketakjenuhan, yakni ikatan rangkap atau gandatiga. (Keenan, 437: 2001)
Untuk membangun suatu polimer, harus ditambahkan sangat banyak monomer ke suatu molekul polimer yang sedang tumbuh, dan reaksinya tidak boleh terputus setelah beberapa molekul pertama bereaksi. Hal ini dapat dicapai jika molekul polimer tersebut mempertahankan gugus fungsinya yang sangat reaktif setiap waktu selama proses sintesisnya berlangsung. Dua jenis utama pertumbuhan polimer ialah polimerisasi adisi dan polimerasi kondensasi. (Oxtoby, 313: 2001)
Volcanoes can be caused by mantle plumes .The word volcano is thought to derive from Vulcano , a volcanic island in the Aeolian Islands of Italy whose name in turn originates from Vulcan , the name of a god of fire in Roman mythology . Kata gunung berapi diduga berasal dari Vulcano , sebuah pulau vulkanik di Kepulauan Aeolian Italia yang namanya pada gilirannya berasal dari Vulcan , nama dewa api dalam mitologi Romawi . The study of volcanoes is called volcanology , sometimes spelled vulcanology . Studi tentang gunung berapi disebut vulkanologi , kadang-kadang dieja vulkanologi. (http:// id.wikipedia)
c.    Alat dan Bahan
a)      Alat
1)      Lepengan keramik
2)      Korek api
b)      Bahan
1)      NH4Cr2O7
2)      Pita Mg atau kertas
d.    Cara kerja
2)      Menyiapkan alat dan bahan
3)      Menempatkan atau menumpahkan satu sendok ammonium dikromat pada keramik
4)      Melipat kecil-kecil kertas untuk digunakan sebagai sumbu
5)      Menempatkan lipatan kertas tersebut pada tumpukan ammonium dikromat
6)      Membakar lipatan kertas pada tumpukan ammonium dikromat
7)      Mengamati proses yang terjadi pada ammonium  dikromat

e.    Hasil pengamatan
1)      Gambar
(a)  

2)      Deskripsi
Sejumlah tumpukan ammonium dikromat yang ditempatkan pada kramik akan mengalami perubahan wujud menjadi abu atau lahar. Awalnya tumpukan ammonium dikromat tersebut ditancapkan lipatan kerta atau pita mg, kemudian lipatan kertas tersebut dibakar sampain padatan ammonium dikromat tersebut juga ikut terbakar. Setelah semuanya habis terbakar, maka padatan ammonium dikromattersebut akan berubah menjadi abu atau lahar. Proses pembakaran ammonium dikromat tersebut menyerupai letusan gunung berapi (vulkano).

f.     Pembahasan

Percobaan ini berjudul Dekomposisi ammonium dikromat : Reaksi Vulkanik (gunung berapi), jadi bahan yng digunakan yaitu ammonium diromat,dengan tujuannya percobaan ini yaitu untuk mengetahui reaksi meletusnya gunung berapi, produk apa yang  dihasilkan pada pristiwa reaksi Vulkanik tersebut, produknya adlah gas yang berbahaya bila di hirup.  Ammonium dikromat merupakan padatan yang berwarna hijau kekuning-kuningan. Padatan ini ditaruh pada lempengan keramik yang selanjutnya akan dibakar dengan jalan terlebih dahulu membakar sumbu yang telah dilumuri dengan alcohol dimana sumbu tersebut ditancapkan pada tumpukan ammonium dikromat. Pada saat terjadi peristiwa pembakaran ammonium dikromat nampak seperti peristiwa meletusnya gunung berapi. Reaksi dari peristiwa ini dapat dituliskan sebagai berikut
(NH4)2Cr2O7(s) à N2(g) + 4H2O(l) + Cr2O3(s)
Demonstrasi ini dilakukan pada ruangan tertutup yang ventilasinya baik, dan setelah selesai membakar ammonium dikromat sebaiknya kita menjauhi diri dari tempat kita melakukan pembakaran karena bau dari ammonium dikromat yang sudah dibakar bila kita hirup dapat merusak sum-sum, karena ammonium dikromat mengandung krom oksida (Cr2O3).
Produk dari reaksi pembakaran ammonium dikromat ini adalan nitrogen (N2), uap air (H2O), dan krom oksida (Cr2O3). Dan reaksi ini termasuk reaksi oksidasi karena terjadi penambahan electron yang dipengaruhi oleh oksigen. Gas yang mengembangkan residu pada demonstrasi ini adalah nitrogen.

g.    Kesimpulan
Dari hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa padatanm ammonium dikromat adalah bahan kimia yang mudah menyala atau terbakar. Proses pembakaran ammonium dikromat menghasilkan atau mengeluarkan gas yang disebut nitrogen (N­2­). Dan padatan yang terkandung dalam abu (residu hijau) yang disebut kromoksida (Cr­2O3). Selain itu, padatan tersebut juga mengeluarkan sedikit uap air. Peristiwa atau proses pembakaran tersebut menyerupai letusan gunung berapi (vulkano).


3.    CHEMICAL POP GUN (LETUPAN MERIAM)
a.    Pelaksanaan
1)   Hari/Tanggal        : Minggu, 22 Mey 2011
2)   Waktu                   : 09.30- selesai
3)   Tempat                 : R.  B.2  Kampus II IAIN Mataram
4)   Tujuan                  :Untuk mengetahui proses terjadinya laetupan pada
  meriam.
b.      Landasan teori


c.                                                                                                                                                                                                             Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Pipa/botol
b)   Pembungkus/isolasi
c)    Sumbat
d)   Bola hisap
e)    Tongkat
f)     Sendok
g)   Gunting
2)   Bahan
a)    Larutan vinegar(cuka)kuat (CH3COOH)
b)   Na2CO3

d.Langkah kerja
1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Membungkus kaca pipa/botol dengan cara membalut /memplesternya dengan isolasi / lakban.
3)      Menyiapkan satu sendok paenuh sodium karbonat
4)      Memasukkan 12 ml vinegar ke dalam tube(pipa/botol)
5)      Menambahkan satu sendok penuh sodium karbonat dengan cara membungkus dengan tissue,
6)      Menutup tabung dengan secepat mungkin dan pegang dari jarak yang jauh.
e.                                                                                                                                                                                                             Hasil Pengamatan
1)      Gambar

Keterangan
2.         Tongkat
3.         Viva/botol
4.         Sumbat
5.         Na2CO3
6.         CH3COOH

f.                                                                                                                                                                                                                    Pembahasan








g.      Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa apabila padatan Na2­CO3 dan caairan CH3COOH dicampur dalam suatu viva/botol yang kemudian ditutup cepat dan rapat akan mengalami letupan meriam yang cukup keras. Dalam proses letupan meriam ini, apabila padatan Na2­CO3 dan CH3COOH yang telah dimasukkan ke dalam botol yang telah ditutup rapat. Tidak boleh ada udara yang masuk ke dalam botol karena akan menyebabkan percobaan mengalami kegagalan.
















G. ACARA VII: SABUN TRANPARAN EKONOMIS
1.    Pelaksanaaan
a.    Hari / tanggal                        : Minggu 22 mey 2011
b.    Waktu                                   : 10.00-10.30 WITA
c.    Tempat                      : R.II.3 kampus 2 IAIN Mataram
d.    Tujuan                      : Untuk mengetahui proses pembuatan sabun trasparan
  ekonomis.
2.    Landasan Teori

3.    Alat dan Bahan
1)   Alat
a)    Bola penghisap
b)   Pipet tetes
c)    Pengaduk
d)   Gelas kimia 100 ml
e)    Penjepit
f)     Kompor
g)   Panci
h)   Tissue
i)     Cetakan plastic
2)   Bahan
a)    Chip soap ultra TR           55 gr
b)   Lexaine C                         7,3 cc
c)    Carbowax liquid               3,56 cc
d)   Propylene glycol              3,56 cc
e)    Fixolite                             3,56 cc
f)     Alcohol 96 %                   3,56 cc
g)   Parpum                             secukupnya
h)   Air                                    secukupnya
4.    Cara kerja
1)   Menyiapkan alat dan bahan
2)   Memasukkan 55 gr chip soap ultra TR ke dalam wadah atau gelas kimia
3)   Memasukkan 7,3 cc lexaine c ke dalam gelas kimia tersebut
4)   Memasukkan 3,65 cc carbowax liquid ke dalam gelas kimia
5)   Menambahkan 3,65 cc propylene glycol
6)   Menambahkan 3,65 cc propylene fixolite l
7)   Memanaskan gelas kimia yang berisi campuran bahan-bahan 2-6 dengan cara dilelehkan dalam air mendidih sambil di aduk dan di angkat
8)   Menambahkan pewarna secukupnya sambil mengaduk sampai rata
9)   Menambahkan parfum  secukupnya sambil mengaduk sampai merata
10) Menambahkan alcohol 96 % sebanyak 3,56 cc, mengaduk samapi rata
11) Menuangkan kedalam cetakan dan di biarkan sampai padat.
5.    Hasil Pengamatan
1)   Gambar






Keterangan:
(1) Gelas kimia
(2) Chip soap ultra TR
(3) Campuran bahan-bahan yang lain
(4) Penjepit
(5) Pengaduk
(6) Panci
(7) Kompor
(8) Bahan-bahan yang sudah dipanaskan
(9) Bahan dituang dalam cetakan
2)   Deskripsi
Proses pembuatan sabun transparan ekonomis terdiri dari campuran chip soap ultra TR dan beberapa bahan kimia lainnya yang dipanaskan. Kemudian, dilelehkan dalam wadah hingga menjadi cair. Selanjutnya, diberikan zat pewarna dan pewangi sesuai selera agar lebih menarik. Setelah itu diangkat dan dituangkan ke dalam wadah atau dicetakkan, baru kemudian dibekukan.    
6.    Pembahasan

7.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan, bahwa proses pembuatan sabun transparan ekonomis sangat mudah, dimana bahan utama-utamanya yaitu chip soap ultra TR dan campuran beberapa bahan kimia lainnya dengan peralatan yang sederhana
Dalam proses pembuatan sabun transparan ekonomis dapat direaksikan dengan menambahkan pewarna dan pewangi yang bervariasi dan dicetak dengan bentuk yang menarik. Karena prosedurnya yang mudah dan bahan yang sederhana, sabun ekonomis transparan ini cocok untuk usaha rumahan.   




[1] (http:// id.wikipedia)
[2] ( Harold, 134: 2004)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar